Breaking News:

Berita Klungkung

Gula Semut Desa Besan Klungkung Dilirik Jadi Komoditi Ekspor, Perajin Masih Kesulitan Pemasaran

Gula semut yang diproduksi oleh warga di Desa Besan, Klungkung, Bali, memiliki potensi untuk menjadi komoditi ekspor.

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Seorang warga di Desa Besan sedang memasak nira, untuk diolah menjadi gula semut beberapa waktu lalu - Gula Semut Desa Besan Klungkung Dilirik Jadi Komoditi Ekspor, Perajin Masih Kesulitan Pemasaran 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Gula semut yang diproduksi oleh warga di Desa Besan, Klungkung, Bali, memiliki potensi untuk menjadi komoditi ekspor.

Bahkan Dirjen Bea Cukai melirik gula semut Desa Besan untuk menjadi produk ekspor ke India.

Hanya saja selama ini potensi ini belum bisa dimaksimalkan, karena para perajin terkendala pemasaran dan bahan baku.

Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Klungkung, I Wayan Ardiasa menjelaskan, prospek komoditi gula semut di Desa Besan memiliki prospek yang menjanjikan.

Baca juga: Tunda Pembangunan, Desa Adat Saba Gianyar Alihkan Dana Rp100 Juta untuk Penanggulangan Covid-19

Baca juga: Arak Gula Menjamur di Karangasem, Petani Arak Tradisional Menjerit, Minta Gubernur Carikan Solusi

Baca juga: Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Mengonsumsi Terlalu Banyak Gula?

Terlebih gula semut kini mulai populer digunakan di negara-negara berkembang, dan menjadi solusi terhadap sisi buruk gula putih bagi konsumen penderita diabetes dan obesitas.

"Dari pihak provinsi tahu di Klungkung (Besan) ada produksi gula semut. Dinas Koperasi dan UKM Bali siap memfasilitasi pemasaran gula semut, kebetulan punya buyer (pembeli)," tandas Wayan Ardiasa, Kamis 25 Februari 2021.

Terkait hal itu, pihaknya telah melakukan penjajagan untuk melihat langsung kondisi perajin gula semut di Desa Besan.

Ternyata saat ini tidak banyak lagi warga di Desa Besan yang menekuni produksi gula semut, dan kebanyakan "mati suri".

Menurut Ardiasa, ada beberapa masalah yang dihadapi para perajin gula semut di Desa Besan, mulai dari masalah pemasaran dan proses pembuatan gula semut membutuhkan waktu cukup lama dibandingkan membuat gula batok.

Sehingga para perajin lebih memilih memproduksi gula batok untuk pasar lokal.

Halaman
12
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved