Breaking News:

Berita Buleleng

Desa Adat Kubutambahan Bali Gelar Paruman Agung, Bahas Lahan Duwen Pura, Dua Warga Walk Out

Paruman membahas tentang aset-aset milik desa adat, termasuk lahan duwen pura yang sempat dilirik oleh pemerintah untuk pembagunan bandara. 

Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Pecalang menjaga ketat pintu masuk Pura Desa Adat Kubutambahan. Penjagaan ini dilakukan saat pihak desa adat menggelar paruman anggung, membahas soal aset-aset milik desa adat setempat. 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Setelah sempat didesak oleh krama yang tergabung dalam Anggota Komite Penyelamat Aset Desa Adat (Kompada), Kelian Adat Desa Kubutambahan, Jero Pasek Warkadea akhirnya menggelar paruman agung, Sabtu (27/2) pukul 09.00 wita.

Paruman yang dilaksanakan secara tertutup di Bale Agung Pura Desa Kubutambahan itu membahas tentang aset-aset milik desa adat, termasuk lahan duwen pura yang sempat dilirik oleh pemerintah untuk pembagunan bandara. 

Dari pantauan di lokasi, paruman ini hanya dapat diikuti oleh krama linggih.

Selain karama linggih, masyarakat lain termasuk awak media tidak diperbolehkan masuk.

Pintu masuk pura tampak dijaga ketat oleh sejumlah pecalang serta anggota kepolisian. 

Baca juga: Rencana Pembangunan Bandara Bali Utara Masih Kekurangan Lahan

Baca juga: DPRD Bali Raker dengan Pemprov, Ray Yusha Singgung Bandara Bali Utara: Jangan Sampai Kebarat-kebirit

Baca juga: Apa Kabar Pembangunan Bandara Bali Utara? Bupati Buleleng: Tidak Akan Dibangun di Desa Kubutambahan

Baru satu jam paruman berjalan, tampak dua warga memutuskan untuk walk out.

Mereka adalah Gede Sumenasa serta Ketut Ngurah Mahkota.

Dengan wajah emosi keduanya memutuskan keluar dari paruman.

Kepada awak media, Gede Sumenasa yang merupakan krama linggih Desa Kubutambahan mengatakan, ia memutuskan untuk walk out lantaran paruman agung ini tidak melibatkan dua komponen masyarakat, yakni krama sampingan dan krama latan.

"Yang dilibatkan hanya 33 orang krama linggih. Sementara jumlah KK di Kubutambahan ini banyak, ada ribuan orang. Makanya kami memutuskan walk out. Semua warga punya tanggung jawab moral menyelamatkan aset lahan duwen pura, yang luasnya mencapai 370 hektar. Semua lahan itu dikontrakkan kepada pihak ketiga, bahkan terancam disita karena SHGB dijaminkan di bank, senilai Rp 1.4 Miliar. Kami berharap tiga komponen masyarakat kedepan bisa dilibatkan dalam paruman agung ini," ungkapnya. 

Halaman
12
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved