Breaking News:

Berita Karangasem

Harga Salak di Karangasem Perkilo Rp1.000, Ratusan Petani Terpaksa Tak Memanen

Ratusan petani salak di Karangasem terpaksa tak memanen buah salaknya karena harga perkilogramnya turun drastis.

Tribun Bali/Saiful Rohim
Seorang petani salak memanen salak di Kecamatan Bebandem, Karangasem, Bali, Selasa 2 Maret 2021. Petani mengeluh lantaran harga salak anjlok di pasaran akibat memasuki masa puncak musim panen. 

TRIBUN-BALI.COM, KARANGASEM - Ratusan petani salak di Karangasem terpaksa tak memanen buah salaknya karena harga perkilogramnya turun drastis.

Bayangkan, salak berukuran besar harga cuma 1.500 perkilogramnya, sedangkan salak berukuran kecil mencapai 1.000 rupiah perkilogramnya.

I Wayan Putu, petani asal Sibetan, Kecamatan  Bebandem, Karangasem, Bali mengaku harga turun sejak 3 minggu yang lalu.

Penurunannya bertahap dari 10 ribu jadi 8 ribu, lalu turun 5 ribu, hingga kini menjadi 1.000 perkilogram.

Kemungkinn karena sudah memasuki puncak musim panen salak, sehingga harga turun.

Baca juga: 1 Hektare Lahan Salak di Desa Duda Timur Karangasem Bali Akan Beralih ke Padi Tahun Ini

Baca juga: 64 Siswa di Karangasem Putus Sekolah Selama Pandemi Covid-19

Baca juga: Hujan Angin di Karangasem Bali, Dua Orang Tewas dan Dua Luka Parah

"Petani salak di Kab. Karangasem menjerit lantaran harga perkilogramnya turun drastis. Sekarang hampir seebagian petani salak tak memanen salaknya karena hitungannya rugi. Tidak dapat keuntungan,"kata Wayan Putu kepada Tribun Bali, Selasa 2 Maret 2021.

Ditambahkan, petani salak yang tak memanen buahnya rata - rata lokasinya jauh dari perkotaan dan jalan raya.

Salaknya dibiarkaan membusuk di pohon dan jatuh sendiri ke tanah.

Langkah tersebut ditempuh lantaran hasil panen tak sebanding dengan pengeluaran untuk menjual salak hingga menuju pasar.

Baca juga: Kronologi Kernet Tewas Tergenjet di Truk Box yang Tertimpa Pohon Tumbang di Karangasem Bali

Baca juga: Longsor Gerus Sanggah dan Senderan Warga di Karangasem Bali

"Kalau dipanen belum upah tukang suwun dari kebun ke jalan, ongkos angkut dari jalan ke pasar, dan upah tukang suwun di pasar. Penghasilan dari penjualan salak nggak cukup untuk upah tukang suwun dan ongkos angkut."

Halaman
12
Penulis: Saiful Rohim
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved