Breaking News:

Berita Bali

Jokowi Cabut Perpres Investasi Miras, Pelaku Pariwisata: Bali Kehilangan Potensi Ekonomi dari Arak

Belum genap seminggu berlaku, Presiden Jokowi cabut Perpres investasi miras. Hal ini disayangkan pelaku pariwisata dan petani arak tradisional.

Tribun Bali/Rizal Fanany
Pengunjung melihat produk arak Bali dalam kegiatan Aero Fest-Native Balinese Spirit Ke-6 di Keramas Aero Park, Gianyar, Minggu (20/12/2020). Kegiatan yang diikuti 15 UMKM arak ini bertujuan memberikan wadah bagi pengusaha arak Bali di tengah pandemi. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Belum genap seminggu Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal diberlakukan, sudah dicabut kembali oleh Presiden Joko Widodo, Selasa 2 Maret 2021.

Pelaku pariwisata serta petani dan pengusaha arak Bali yang awalnya mendapat angin segar dengan aturan baru investasi minuman keras (miras) lokal ini pun menyayangkan pencabutan tersebut.

Pelaku pariwisata Bali, I Made Ramia Adnyana, beserta insan pariwisata lainnya awalnya mengapresiasi pemerintah pusat yang telah mengeluarkan terobosan kebijakan baru berupa Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal.

Ketentuan tersebut tertuang dalam Lampiran III, angka 31, 32, dan 33, yang menetapkan bidang usaha industri minuman keras mengandung alkohol, alkohol anggur, dan malt terbuka untuk penanaman modal baru di Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua dengan memperhatikan budaya serta kearifan setempat.

Namun kini Presiden Jokowi mencabut Perpres tersebut. Ini dilakukan Jokowi menyusul adanya polemik penolakan dari berbagai elemen masyarakat di Indonesia terkait hal tersebut.

"Intinya sangat disayangkan pencabutan lampiran Perpres No 10 Tahun 2021. Kita sangat berharap bahwa dengan Perpres tersebut masyarakat Bali bisa mempertahankan produk kearifan lokal Bali dari nenek moyang kita," kata Ramia kepada Tribun-Bali.com, Selasa 2 Maret 2021. 

Baca Juga: BREAKING NEWS: Pencabutan Aturan Investasi Miras, Penjual Arak Minta Bali Dikhususkan 

Baca Juga: Gubernur Koster: Jepang Punya Sake, Kita Punya Kearifan Lokal Arak Bali yang Tidak Kalah 

Menurutnya produksi arak tradisional di Bali dapat memberi manfaat ekonomi sosial budaya. Seperti potensi cukai serta penghidupan masyarakat petani arak di Bali.

“Masyarakat Bali memiliki kearifan lokal, bahwa hidup harus berdampingan dan dekat dengan alam. Apa yang tumbuh di alam lingkungannya, itulah yang dijadikan sebagai anugerah kehidupannya,” jelas GM Hotel Sovereign ini.

Halaman
1234
Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Komang Agus Ruspawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved