Breaking News:

Berita Bangli

Nyepi 2021, Tradisi Magoak-goakan di Desa Kintamani Bangli Bali Hanya Dilaksanakan Peduluan

Tradisi magoak-goakan di Desa Kintamani yang rencananya digelar pada tanggal 7 Maret nanti, akan dilaksanakan dengan cara berbeda.

Tribun Bali/Fredey Mercury
Tradisi Magoak-goakan di Desa Kintamani yang dilaksanakan sebelum merebaknya pandemi covid-19 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Tradisi magoak-goakan di Desa Kintamani yang rencananya digelar pada tanggal 7 Maret nanti, akan dilaksanakan dengan cara berbeda.

Sesuai rencana, peserta tradisi ini hanya akan diikuti oleh peduluan desa.

Bendesa Kintamani, I Nyoman Sukadia Jumat (5 Maret 2021) menjelaskan, tradisi magoak-goakan sebelumnya melibatkan seluruh krama Desa Kintamani.

Biasanya, tradisi ini diikuti sekitar 4000an orang.

Namun dalam kondisi pandemi saat ini, Sukadia mengatakan peserta magoak-goakan dibatasi.

Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya kerumunan.

Baca juga: 4 Kali Diterjang Longsor Dalam 10 Hari Terakhir, Darmawan Tak Berani Tidur di Rumahnya di Kintamani

Baca juga: Cegah Klaster Upacara Agama di Bali, Firman: Rangkaian Perayaan Nyepi Sudah Diatur Secara Jelas

Baca juga: Nyepi Tahun 2021, Internet Data Seluler Mati 30 Jam, Minggu Sampai Senin Pukul 6 Pagi

“Oleh sebab itu dicukupkan hanya dari peduluan saja agar tradisinya masih tetap berjalan. Kalau hanya peduluan saja, paling hanya sekitar 20 orang,” ujarnya.

Tradisi magoak-goakan dilaksanakan di lapangan khusus yang berlokasi di pojok Desa Kintamani.

Biasanya, acara ini dimulai sejak pukul 08.00 wita hingga sore hari sekitar 17.00 wita.

“Namun dengan situasi pandemi ini, magoak-goakan diperkirakan hanya berlangsung sekitar 30 menit hingga 1 jam,” ucapnya.

Lebih lanjut dijelaskan, tradisi magoak-goakan merupakan sebuah tarian sakral yang diwariskan turun-temurun.

Kegiatan ini dilaksanakan setahun sekali, dalam rangkaian nyepi desa.

Sukadia juga mengatakan bahwa tarian ini yang merupakan simbol ucapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa melalui perasaan gembira.

“Kita tidak berani jika tidak melakukan tradisi ini. Oleh sebab itu, walaupun dilaksanakan secara terbatas, magoak-goakan tetap dilaksanakan untuk melestarikan warisan leluhur kami. Dan juga karena sebagai ungkapan rasa syukur, saat magoak-goakan para peserta tidak diperkenankan berbicara kasar. Apapun yang terjadi saat magoak-goakan, kita harus legowo,” tandasnya

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved