Breaking News:

Hari Perempuan Internasional

Selamat Hari Perempuan Internasional 8 Maret; Betulkah Kecantikan Menentukan Kebahagiaan?

Dengan kata lain, semakin fokus pada outer beauty (kecantikan luar atau fisik), maka kita akan semakin merasakan inner beast (penderitaan batin).

Editor: Sunarko
Istimewa
Foto ilustrasi tentang corak rambut perempuan. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Every year, March 8, is celebrated as International Women's Day (IWD), to celebrate the social, economic, cultural and political achievements of women.

Quoting the IWD website, International Women's Day is also celebrated as a campaign to accelerate the achievement of gender equality.

In celebration of International Women's Day in 2021, the theme carried is ' Choose to Challenge ' or 'Choose to Challenge'. The theme means a call for all parties to challenge and call for gender bias and inequality, as well as celebrate the achievements of women.

The article below tries to reveal a little about whether there is a link between physical beauty or beauty, especially in women, with achievement and levels of happiness.

                                                                              ***

" Don't judge a book by its cover (do n't judge a book by its cover )"

Such is the old parable or metaphor, which contains a wise message that in assessing (the quality) of someone or something, we should not be amazed by their physical appearance or appearance.

Sight can be deceptive, because what is seen on the outside does not necessarily represent what is on the inside.

This parable is still valid and widely held today. However, a survey of the relationship between a person's appearance and their income revealed quite surprising findings, as well as disrupting the meaning of the mefatora.

Also read: Why Are More People Lonely in Crowds?

Also read: The Story of Four-Legged Money and the Pandemic

Dalam bukunya Barking up The Wrong Tree (Mendaki Tangga Yang Salah), Eric Barker menulis bahwa di dunia kerja, perempuan cantik mendatangkan 4 persen lebih banyak uang, dan pria tampan mendapat 3 persen tambahan (penghasilan).

Eric, dikenal sebagai penulis pengembangan diri di New York Times dan majalah Time, kemudian melanjutkan bahwa “perempuan kurang cantik mendapatkan (penghasilan) 3% lebih sedikit, dan pria yang kurang tampan membawa pulang 22% lebih sedikit uang”.

Ia menekankan, orang-orang rupawan ini bukan lebih sukses (daripada orang-orang yang kurang rupawan) lantaran kita senang melihat mereka. Bukan begitu ternyata.

Kajian menunjukkan bahwa bungkus luar atau penampilan fisik yang indah (outer beauty) membuat mereka memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi.

Nah, percaya diri yang tinggi itu akan membuat hidup seseorang bersemangat dan mendorong produktivitasnya, sehingga pada gilirannya membuat mereka bersinar dalam pekerjaan.

Baca juga: Mengapa Resolusi Akhir Tahun Sering Gagal Terwujud?

Eric tidak asal menulis. Ia mengutip hasil sebuah kajian di Amerika Serikat (AS), yang diadakan bekerjasama dengan pihak pengelola Rosenberg Self-Esteem Scale.

Hasil survei lain mengungkapkan data-data yang relevan. Survei global yang dipublikasikan pada 2017 oleh sebuah produk perawatan tubuh perempuan juga menyebutkan, sekitar 54 persen perempuan di dunia yang berusia 10-17 tahun tidak memiliki body esteem yang tinggi.

Body esteem adalah bagaimana seseorang merasa atau memandang penampilan fisiknya, termasuk berat badannya, rambut, matanya, dan fitur-fitur fisik lain yang membangun penampilannya. Pendek kata, body esteem adalah tentang kecantikan luar (outer beauty).

Body esteem berbeda dari self-esteem. Self esteem (biasa diterjemahkan sebagai harga diri) adalah bagaimana seseorang merasakan/memandang diri sendiri sebagai manusia.

Bisa dikatakan, self esteem tidak hanya menyangkut aspek fisik atau lahir tapi juga batin. Jadi self esteem mencakup kecantikan luar (outer beauty) dan kecantikan dalam (inner beauty). 

Disebutkan oleh survei tersebut bahwa kebanggaan atas penampilan fisik yang lebih atraktif (higher levels of body esteem) memiliki dampak jangka panjang pada kepercayaan diri perempuan, daya tahannya serta kepuasan hidupnya.

Sedangkan kebanggaan diri yang rendah pada penampilan fisik (low body esteem) membuat perempuan lebih cenderung kehilangan atau melewatkan kesempatan-kesempatan penting dalam hidupnya, karena ia pilih menarik diri dari kegiatan-kegiatan yang sesungguhnya bisa mengembangkan dirinya secara fundamental, lantaran “mengalah” pada tekanan penilaian (publik) mengenai kecantikan.   

Dalam konteks ini, apa yang dikatakan tokoh feminis awal abad ke-21 asal Prancis, Simone de Beauvoir, menemukan buktinya, yaitu “to lose confidende in one’s body is to lose confidence in oneself” (kehilangan kepercayaan pada tubuh fisik sama saja dengan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri).

Oleh karena itu, sebuah proyek besar untuk meningkatkan body esteem diluncurkan oleh perusahaan produk perawatan perempuan global itu di Brazil, India dan Indonesia pada 2019 lalu, yang bekerjasama dengan Unicef.

Harapannya, pada 2022 nanti akan tercipta peningkatan body confidence dan self esteem di tiga negara tersebut.

By the way, mereka yang secara fisik dinilai tidak memiliki body esteem tinggi tak perlu berkecil hati, apalagi merasa kalah. Dan seharusnya memang tidak perlu demikian.           

Kabar gembira dibawa oleh Daniel L. Benkendorf. Dia adalah profesor di Fashion Institute of Technology, State University of New York.

Secara garis besar, dari penelitian ilmiahnya, Benkendorf menemukan bahwa semakin kita terobsesi dengan kecantikan luar dan hal-hal yang terkait dengannya (seperti produk-produk kecantikan dan fashion), maka kita akan semakin tidak bahagia.

Temuan Benkendorf itu dikutip oleh buku Healing The Soul: 99 Cara Menyemai Cinta dan Bahagia, yang diterbitkan September 2019 lalu.

Semakin tinggi minat kita terhadap produk kecantikan, atau semakin sering membelinya demi mempercantik diri (outer beauty), anehnya justru menandakan bahwa kita cenderung semakin tidak bahagia (less subjective well being), kata Benkendorf seperti dikutip buku tersebut.

Dengan kata lain, semakin fokus pada outer beauty (kecantikan luar atau fisik), maka kita akan semakin merasakan inner beast (penderitaan batin).

Inilah yang disebut Denkendorf dengan istilah “Beauty and The Beast Paradox”, sebagaimana yang dipaparkannya pada “The 6th World Congress of International Positive Psychology Association” di Australia pada Juli 2019 lalu.

Perusahan riset pasar milik Warren E. Buffet memperkirakan bahwa industri kecantikan dunia akan benilai 699 miliar dolar AS (sekitar 10.000 triliun rupiah) di tahun 2023.

Meanwhile, the fashion industry is of much greater value, namely 3 trillion US dollars (42,000 trillion rupiah). A fantastic number that funds the mass obsession of some human beings, which in the end only makes them even more unhappy.

As written in Healing The Soul .

Eric Barker said, confidence that is solely built from outer beauty will make us delusional, blind to our own blindness.

What do you think?

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved