Breaking News:

Tak Mudah Menjadi Sulinggih, Begini Pandangan Ida Rsi yang Juga Pensiunan Dosen UNHI

Tak Mudah Menjadi Sulinggih atau Nabe, Begini Pandangan Ida Rsi yang Juga Pensiunan Dosen UNHI

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti 

Wiku Sabha Ukir adalah sulinggih yang mau memberi petunjuk jalan apabila ia dibayar mahal.

Wuku Sanggraha yaitu sulinggih yang mengawini walaka, melanggar perintah nabe.

Wiku Grahita adalah sulinggih yang memiliki nabe lebih dari satu.

"Sebenarnya ada delapan wiku/sulinggih yang disebut Wiku Ceda atau wiku cacat, yang seharusnya dihindari oleh orang yang telah madwijati atau madiksa," tegas ida.

Namun disamping Wiku Ceda/cacat, ada wiku atau sulinggih yang disebut mulia atau dihormati.

Diantaranya, Wiku Grhahasta atau sulinggih yang berkeluarga, tinggal di satu tempat, hormat kepada nabe, hormat kepada masyarakat dan lingkungan, selalu berdoa kepada Tuhan/Hyang Widhi, suka menolong orang kesusahan, sabar, mentaati aturan dan sesana kesulinggihan.

Wiku Bhiksuka atau sulinggih yang selalu mempelajari sastra filsafat, keagamaan, hidup mengembara dan tidak berkeluarga.

Wiku Wanaprasta  atau sulinggih yang senantiasa bertapa di hutan, tidak berkeluarga, mahir tentang filsafat agama.

Wiku Sukla Brahmacari  yaitu sulinggih yang memiliki pengetahuan sempurna di bidang sastra, filsafat atau tatwa keagamaan hidup sederhana, dan tidak pernah berkeluarga (tidak pernah berhubungan suami-istri dari lahir sampai mati).

Sesana
Kemudian tentang nabe yang baik. Diantaranya, punya pengetahuan tentang sastra, budaya, tatwa, keagamaan, sopan, berperilaku baik dan jujur.

"Yang akan menjadi nabe tidak boleh meminta agar dia dipilih jadi nabe," tegas ida. 

Seorang calon nabe boleh menolak atau menerima murid, apabila tidak sesuai atau telah memiliki kriteria sebagai seorang sisya atau murid. Dan lain sebagainya.

"Seorang bisa didiksa apabila telah lulus persyaratan baik persyaratan tertulis/administrasi maupun tak tertulis, baik yang dikeluarkan oleh guru nabe ataupun dari PHDI," sebut pembina Pasraman Bhuwana Dharma Shanti ini. 

Seperti contoh yang dulu dikeluarkan oleh PHDI, yakni berkelakuan baik, ada persetujuan dari keluarga sendiri, keluarga besar atau dadia, serta cukup umur.

Termasuk sehat jasmani dan rohani. Serta masih ada beberapa syarat lainnya.

"Apabila seorang sulinggih keluar dari sesana seperti di atas, misalnya berhubungan dengan hukum, kriminal, kepolisian, maka yang paling bertanggung jawab adalah guru nabe," tegasnya.

Tak hanya itu, seorang sulinggih yang melanggar sesana juga dapat kena sanksi administrasi dari PHDI apabila ketika madwijati tercatat dalam daftar PHDI. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved