Breaking News:

Kesehatan

Masih Menjadi Momok, Kenali Bagaimana Penyakit Kanker Payudara Bisa Terjadi

Penyakit kanker payudara di Indonesia menyebabkan kematian pada wanita nomor dua setelah kanker rahim.

net
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Penyakit kanker payudara di Indonesia menyebabkan kematian pada wanita nomor dua setelah kanker rahim.

Maka dari itu kanker payudara sendiri dapat menjadi momok bagi kaum hawa di Indonesia, karena seluruh wanita berisiko menderita kanker payudara

Ketika dikonfirmasi, dr. I Putu Arya Dharma, Sp.B (K) onk, dokter spesialis bedah tumor Rumah Sakit Balimed mengatakan kanker payudara ini tidak saja menjadi pembunuh nomor dua di Indonesia, namun juga menjadi penyebab kematian nomor dua bagi wanita di seluruh dunia. 

"Jika di Indonesia penyebab kematian pertama kaum wanita adalah kanker leher rahim, sedangkan untuk di dunia penyebab kematian wanita yang pertama adalah kanker paru-paru," jelasnya pada, Rabu (10 Maret 2021).

Meskipun menjadi penyebab kematian nomor dua di Indonesia, namun dalam kurun waktu 40 tahun, besaran resiko terjangkit kanker payudara diakui dr. Arya mengalami penurunan.

Baca juga: 9 Makanan Enak Ini Ternyata Dapat Mencegah Kanker Payudara, Apa Saja?

Baca juga: 10 Faktor yang Meningkatkan Risiko Kanker Payudara Pria

Jika pada era tahun 1970 an, 1 diantara 11 wanita bisa terjangkit kanker payudara, pada tahun 2018 angkanya menurun menjadi 1 diantara delapan wanita beresiko terjangkit kanker payudara.

Sebelum mengenali bagaimana gejala kanker payudara, ada baiknya untuk terlebih dahulu mengenal anatomi payudara, payudara sendiri merupakan elevasi dari jaringan grandular dan jaringan lemak yang tertutup kulit pada dinding dada yang melekat dengan kuat pada otot di dada yakni otot prektoralis mayor.

Ukuran payudara ini tergantung pada jumlah jaringan lemak yang dimiliki seseorang, bukan pada jumlah kelenjar. 

"Jadi anggapan selama ini yang menyatakan bahwa apabila ukuran payudara besar maka akan memproduksi air susu yang banyak, adalah tidak benar, karena jumlah kelenjarnya sama untuk semua orang, yang membedakan hanyalah jumlah lemak yang membungkusnya," tambahnya.

Halaman
123
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved