Serba Serbi

Melasti Sebelum Nyepi, Ini Makna Dalam Hindu Bali

Sebelum menyambut hari raya Nyepi pada 14 Maret 2021, umat Hindu di Bali akan melakukan beberapa rangkaian upacara.

Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Iringan melasti Karya Agung Pengurip Gumi saat melewati Jembatan Demung, Kecamatan Kediri, yang terbuat dari Bambu, Kamis 30 Januari 2021 - Melasti Sebelum Nyepi, Ini Makna Dalam Hindu Bali 

Laporan Wartawan Tribun Bali Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sebelum menyambut hari raya Nyepi pada 14 Maret 2021, umat Hindu di Bali akan melakukan beberapa rangkaian upacara.

Satu diantaranya adalah melis atau mekiyis.

Namun apakah sebenarnya makna dari melis atau mekiyis ini?

Jero Mangku Ketut Maliarsa, menjelaskan bahwa perayaan Nyepi oleh umat Hindu Indonesia diawali dengan melaksanakan melasti atau disebut juga melis dan mekiyis.

Baca juga: Hari Raya Nyepi, Penyebrangan Kapal Terakhir dari Padang Bai Pukul 03.00 Wita

Baca juga: Nyepi 2021, Internet, dan Pentingnya “Puasa” Medsos

Baca juga: Dipantau Google Maps, Pegawai Pemkot Denpasar Dilarang Rayakan Nyepi di Luar Kota

"Tujuannya untuk melebur segala macam kotoran pikiran (manacika), perkataan (wacika), dan perbuatan (kayika)," sebutnya kepada Tribun Bali, Kamis 11 Maret 2021.

Kata ' melasti' terdiri dari kata mala dan asti atau astiti.

Kata mala bermakna kotoran atau klesa, dan astiti berarti memuja atau mendoakan.

Sehingga melasti adalah melakukan pembersihan segala kekotoran, dengan memuja keagungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasinya.

Agar mencapai kebersihan alam manusia (bhuana alit) sehingga bersih lahir batin.

Serta kebersihan alam semesta (bhuana agung), sehingga menjadi tenang dan damai tidak ada Panca Baya atau dijauhkan dari marabahaya.

"Melasti memang dilakukan beberapa hari sebelum Nyepi. Pada saat ini para umat Hindu akan mundut atau mengusung pratima dan pralingga beserta alat-alat upacara di pura. Lalu disucikan di segara atau lautan, sebagai tempat penyucian Ida Bhatara," jelas mantan kepala sekolah ini.

Sebab secara mitologi bahwa segara adalah tirta amerta dari pemutaran Gunung Mandara atau Mandara Giri.

Yang dilakukan oleh para dewa dan para raksasa di lautan susu (Ksirararnawa), untuk memperoleh air kehidupan atau tirta amerta.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved