Breaking News:

Dua Kali Nyepi di Bali Tanpa Pawai Ogoh-ogoh, Bagaimana Pengaruhnya? 

Hari Nyepi diketahui dalam Hindu di Bali dan di Nusantara, adalah pergantian tahun, dalam hal ini adalah tahun Caka (Saka).

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Eviera Paramita Sandi
Dok. Instagram @st.gemehindah
Ogoh-ogoh Sang Maungpati Banjar Gemeh Denpasar. 

"Untuk menuju kepada era baru (tahun baru) maka dunia dan segala isinya perlu dibersihkan atau dikenal dengan kata di somya, yang dilakukan dengan pelaksanaan tawur," tegas pensiunan dosen Unhi ini.

Namun sebenarnya dalam lontar Rogha Sangarabumi, disebutkan bahwa ada empat sasih (bulan Bali), yang selalu membawa petaka atau hal tidak baik.

Sehingga sasih tersebut dikenal dengan sasih mala.

"Sasih Mala ini zaman dahulu, pantang dipakai untuk memulai melaksanakan upacara suci, misalnya ngenteg linggih, mamukur, pawiwahan, mlaspas dan lain-lainnya," sebut ida rsi. Sasih mala tersebut bergulir setiap tiga bulan dalam setahun kalender Bali.

Sasih yang dianggap mala adalah, sasih katiga.

"Namun sayang sasih katiga ini, jarang bahkan tidak pernah dilaksanakan pecaruan, padahal sasih ini adalah sasih mala atau tenget sama dengan ketiga sasih yang lain," kata beliau.

Lalu sasih kaenem, yang juga disebut sasih mala, oleh sebab itu sasih kaenem dilakukan upacara nangluk merana.

"Biasanya setiap desa di Bali melakukan pecaruan dan palelawatan di pura. Kemudian melakukan upacara memintar (keliling menuju perbatasan Desa)," kata beliau.

Sasih Kesanga, adalah sasih yang juga disebut sasih mala, sehingga tiap-tiap sasih kesanga ada tawur agung kesanga.

Lalu sasih sada atau disebut mala sada. Dalam sasih mala sada biasanya di beberapa tempat melakukan pecaruan.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved