Breaking News:

Dua Kali Nyepi di Bali Tanpa Pawai Ogoh-ogoh, Bagaimana Pengaruhnya? 

Hari Nyepi diketahui dalam Hindu di Bali dan di Nusantara, adalah pergantian tahun, dalam hal ini adalah tahun Caka (Saka).

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Eviera Paramita Sandi
Dok. Instagram @st.gemehindah
Ogoh-ogoh Sang Maungpati Banjar Gemeh Denpasar. 

"Kalau kita lihat kedudukan sasih tersebut dengan ilmu perbintangan, maka keempat sasih tersebut merupakan sasih pancaroba (bulan penggantian cuaca), misalnya sasih kesanga pergantian dari musuh hujan ke musim kering, dan seterusnya," jelas mantan jurnalis ini.

Dari paparan tersebut, kata ida, bisa memberikan penjelasan bahwa inti dari ritual tawur agung adalah untuk membersihkan alam semesta ini.

Agar polusi-polusi yang telah mengotori alam ini, selama setahun bisa hilang atau bersih.

Sehingga dalam tawur ada ritual nyomya bhuta, yang artinya bahwa hal-hal yang bersifat bhuta (penyakit, kekerasan, situasi tidak bersahabat dan lainnya) bisa hilang dan menjadi ketenangan, ketentraman, kesehatan, kebahagiaan.

Dalam kata lain, sifat kebhutaan diubah menjadi sifat kedewataan. Oleh karena itu, setelah upacara tawur, maka saat sandikala (magrib), diadakan upacara mebuu-buu, yaitu membunyikan kentongan, kaleng, bambu, atau benda-benda yang bisa disuarakan keliling rumah didahului dengan membawa prakpak (obor dari daun kelapa kering), dan sambil menyemburkan mesui, dengan tujuan menghilangkan hal-hal negatif menjadi positif.

Upacara mebuu-buu ini juga disebut upacara ngerupuk.

Lanjut ida, sebelum hari raya Nyepi diumumkan sebagai hari libur nasional, maka saat upacara pangerupukan di Desa Sesetan dan Desa Pedungan di Denpasar Selatan.

Ada tradisi yang disebut 'Pangrupukan Pasawitran', yaitu saat pangerupukan masyarakat Sesetan dan masyarakat Pedungan, secara spontan atau dadakan membuat atraksi pawai dengan saling balas-membalas tetapi tertib dan sopan.

"Acara ini sudah dilakukan sebelum tahun 1975 ke bawah, dan berlanjut terus berturut turut," sebut ida.

Acara tersebut biasanya mulai pukul 19.00 Wita, dengan masyarakat Sesetan membawa pawai orang nganten, maka masyarakat Pedungan membalas dengan pawai orang ngotonin.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved