Breaking News:

Dua Kali Nyepi di Bali Tanpa Pawai Ogoh-ogoh, Bagaimana Pengaruhnya? 

Hari Nyepi diketahui dalam Hindu di Bali dan di Nusantara, adalah pergantian tahun, dalam hal ini adalah tahun Caka (Saka).

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Eviera Paramita Sandi
Dok. Instagram @st.gemehindah
Ogoh-ogoh Sang Maungpati Banjar Gemeh Denpasar. 

Hal ini berlanjut sampai dengan upacara ngaben atau mamukur, hingga menjelang pagi.

Sehingga pagi saat Nyepi masyarakat bisa tidur pulas tidak melakukan kegiatan.

Namun setelah hari Nyepi dinyatakan sebagai hari libur nasional, hal itu disambut dengan suka cita. Lalu timbul lah ogoh-ogoh sebagai pelengkap pangerupukan.

Hal ini mendapat sambutan dari anak-anak muda yang kreatif untuk menyalurkan bakat seninya, sehingga seolah-olah Nyepi tanpa ogoh-ogoh rasanya hambar.

"Pertanyaannya apakah kalau tidak ada arak-arakan ogoh-ogoh saat pangerupukan, apa baik buruknya?," katanya.

Seperti telah disebutkan, kata ida, ogoh-ogoh timbul secara spontanitas saat Nyepi diakui secara nasional. Apabila ogoh-ogoh ditiadakan adakah hal yang akan ditimbulkan.

"Hal ini dulu sudah pernah menjadi paruman sulinggih dan PHDI," kata beliau.

Memang ogoh-ogoh tidak berkaitan langsung dengan Nyepi, karena saat tawur pagi hari sudah ada upacara nyomya.

Sehingga ogoh-ogoh tersebut memiliki fungsi, apabila dilakukan siang hari atau sore hari sekejap saat pangrupukan.

"Jadi sebenarnya apabila ogoh-ogoh ditiadakan tidak ada hal baik- buruk dari segi agama Hindu di Bali," tegas beliau.

Dan untuk saat pandemi yang melanda dunia, tiadanya ogoh-ogoh ini dapat mengurangi kerumunan, demi menghindari penularan penyakit virus Covid 19.

Sebenarnya adanya ogoh-ogoh, walaupun tidak erat kaitannya dengan Nyepi, tetapi ada hal yang memberikan kebanggaan kepada umat Hindu di Bali bahkan dinusantara.

"Asalkan pengarakan ogoh-ogoh itu tidak untuk jor-joran, perkelahian dan sebagainya," tegas ida rsi.

Maka dengan adanya ogoh-ogoh, memperlihatkan kesemarakan sebelum menyambut hari Nyepi.

Ogoh-ogoh memberikan nilai positif kepada anak-anak muda agar kreatif, untuk mengembangkan kreatifitas positifnya.

Namun dalam hal ini, dengan adanya pandemi Covid 19, yang sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Mengingat penularannya dari droplets.

Serta adanya imbauan pemerintah, maka sebaiknya memang arak-arakan ogoh-ogoh untuk tahun ini bisa ditiadakan. Tujuannya jelas demi kesehatan dan keselamatan bersama. (ask)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved