Dua Kali Nyepi di Bali Tanpa Pawai Ogoh-ogoh, Bagaimana Pengaruhnya? 

Hari Nyepi diketahui dalam Hindu di Bali dan di Nusantara, adalah pergantian tahun, dalam hal ini adalah tahun Caka (Saka).

Dok. Instagram @st.gemehindah
Ogoh-ogoh Sang Maungpati Banjar Gemeh Denpasar. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pawai ogoh-ogoh tahun ini kembali ditiadakan, sebab masih dalam kondisi pandemi akibat penyebaran virus Covid-19.

Banyak muda-mudi yang sudah ingin, melakukan pawai seperti tahun sebelumnya. Namun karena adanya pandemi, dan agar tidak menimbulkan klaster baru.

Maka pawai ogoh-ogoh untuk sementara waktu ditiadakan.

Baca juga: Makna Upacara Melasti Sebelum Hari Raya Nyepi Bagi Umat Hindu Bali

Lalu apakah ada pengaruh dari tidak dilakukannya pawai ogoh-ogoh ini?

Berikut penjelasan sulinggih, Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti.

"Sebenarnya tanpa ogoh-ogoh, tidak akan mengurangi arti dan makna pangerupukan. Karena sejatinya tidak berkaitan betul," tegas beliau kepada Tribun Bali, Jumat 12 Maret 2021.

Sebelum jauh membahas makna ngerupuk. Pendiri dan pembina Pasraman Bhuwana Dharma Shanti ini, ingin menjelaskan dahulu tentang makna filosofi Nyepi dalam Hindu Bali.

"Kita semua perlu terlebih dulu mengenal tentang hari Nyepi, dan beberapa sasih yang dianggap mala atau membawa bencana) dalam hitungan kalender umat Hindu di Bali," sebut ida.

Hari Nyepi diketahui dalam Hindu di Bali dan di Nusantara, adalah pergantian tahun, dalam hal ini adalah tahun Caka (Saka).

Dalam perjalanan kehidupan manusia, serta alam dan isinya selama kurun waktu setahun, maka terjadi hal-hal yang mempengaruhi kehidupan manusia beserta isi alam tersebut, khususnya masalah polusi alam lingkungan bahkan polusi pada pikiran manusia itu sendiri.

"Untuk menuju kepada era baru (tahun baru) maka dunia dan segala isinya perlu dibersihkan atau dikenal dengan kata di somya, yang dilakukan dengan pelaksanaan tawur," tegas pensiunan dosen Unhi ini.

Namun sebenarnya dalam lontar Rogha Sangarabumi, disebutkan bahwa ada empat sasih (bulan Bali), yang selalu membawa petaka atau hal tidak baik.

Sehingga sasih tersebut dikenal dengan sasih mala.

"Sasih Mala ini zaman dahulu, pantang dipakai untuk memulai melaksanakan upacara suci, misalnya ngenteg linggih, mamukur, pawiwahan, mlaspas dan lain-lainnya," sebut ida rsi. Sasih mala tersebut bergulir setiap tiga bulan dalam setahun kalender Bali.

Sasih yang dianggap mala adalah, sasih katiga.

"Namun sayang sasih katiga ini, jarang bahkan tidak pernah dilaksanakan pecaruan, padahal sasih ini adalah sasih mala atau tenget sama dengan ketiga sasih yang lain," kata beliau.

Lalu sasih kaenem, yang juga disebut sasih mala, oleh sebab itu sasih kaenem dilakukan upacara nangluk merana.

"Biasanya setiap desa di Bali melakukan pecaruan dan palelawatan di pura. Kemudian melakukan upacara memintar (keliling menuju perbatasan Desa)," kata beliau.

Sasih Kesanga, adalah sasih yang juga disebut sasih mala, sehingga tiap-tiap sasih kesanga ada tawur agung kesanga.

Lalu sasih sada atau disebut mala sada. Dalam sasih mala sada biasanya di beberapa tempat melakukan pecaruan.

"Kalau kita lihat kedudukan sasih tersebut dengan ilmu perbintangan, maka keempat sasih tersebut merupakan sasih pancaroba (bulan penggantian cuaca), misalnya sasih kesanga pergantian dari musuh hujan ke musim kering, dan seterusnya," jelas mantan jurnalis ini.

Dari paparan tersebut, kata ida, bisa memberikan penjelasan bahwa inti dari ritual tawur agung adalah untuk membersihkan alam semesta ini.

Agar polusi-polusi yang telah mengotori alam ini, selama setahun bisa hilang atau bersih.

Sehingga dalam tawur ada ritual nyomya bhuta, yang artinya bahwa hal-hal yang bersifat bhuta (penyakit, kekerasan, situasi tidak bersahabat dan lainnya) bisa hilang dan menjadi ketenangan, ketentraman, kesehatan, kebahagiaan.

Dalam kata lain, sifat kebhutaan diubah menjadi sifat kedewataan. Oleh karena itu, setelah upacara tawur, maka saat sandikala (magrib), diadakan upacara mebuu-buu, yaitu membunyikan kentongan, kaleng, bambu, atau benda-benda yang bisa disuarakan keliling rumah didahului dengan membawa prakpak (obor dari daun kelapa kering), dan sambil menyemburkan mesui, dengan tujuan menghilangkan hal-hal negatif menjadi positif.

Upacara mebuu-buu ini juga disebut upacara ngerupuk.

Lanjut ida, sebelum hari raya Nyepi diumumkan sebagai hari libur nasional, maka saat upacara pangerupukan di Desa Sesetan dan Desa Pedungan di Denpasar Selatan.

Ada tradisi yang disebut 'Pangrupukan Pasawitran', yaitu saat pangerupukan masyarakat Sesetan dan masyarakat Pedungan, secara spontan atau dadakan membuat atraksi pawai dengan saling balas-membalas tetapi tertib dan sopan.

"Acara ini sudah dilakukan sebelum tahun 1975 ke bawah, dan berlanjut terus berturut turut," sebut ida.

Acara tersebut biasanya mulai pukul 19.00 Wita, dengan masyarakat Sesetan membawa pawai orang nganten, maka masyarakat Pedungan membalas dengan pawai orang ngotonin.

Hal ini berlanjut sampai dengan upacara ngaben atau mamukur, hingga menjelang pagi.

Sehingga pagi saat Nyepi masyarakat bisa tidur pulas tidak melakukan kegiatan.

Namun setelah hari Nyepi dinyatakan sebagai hari libur nasional, hal itu disambut dengan suka cita. Lalu timbul lah ogoh-ogoh sebagai pelengkap pangerupukan.

Hal ini mendapat sambutan dari anak-anak muda yang kreatif untuk menyalurkan bakat seninya, sehingga seolah-olah Nyepi tanpa ogoh-ogoh rasanya hambar.

"Pertanyaannya apakah kalau tidak ada arak-arakan ogoh-ogoh saat pangerupukan, apa baik buruknya?," katanya.

Seperti telah disebutkan, kata ida, ogoh-ogoh timbul secara spontanitas saat Nyepi diakui secara nasional. Apabila ogoh-ogoh ditiadakan adakah hal yang akan ditimbulkan.

"Hal ini dulu sudah pernah menjadi paruman sulinggih dan PHDI," kata beliau.

Memang ogoh-ogoh tidak berkaitan langsung dengan Nyepi, karena saat tawur pagi hari sudah ada upacara nyomya.

Sehingga ogoh-ogoh tersebut memiliki fungsi, apabila dilakukan siang hari atau sore hari sekejap saat pangrupukan.

"Jadi sebenarnya apabila ogoh-ogoh ditiadakan tidak ada hal baik- buruk dari segi agama Hindu di Bali," tegas beliau.

Dan untuk saat pandemi yang melanda dunia, tiadanya ogoh-ogoh ini dapat mengurangi kerumunan, demi menghindari penularan penyakit virus Covid 19.

Sebenarnya adanya ogoh-ogoh, walaupun tidak erat kaitannya dengan Nyepi, tetapi ada hal yang memberikan kebanggaan kepada umat Hindu di Bali bahkan dinusantara.

"Asalkan pengarakan ogoh-ogoh itu tidak untuk jor-joran, perkelahian dan sebagainya," tegas ida rsi.

Maka dengan adanya ogoh-ogoh, memperlihatkan kesemarakan sebelum menyambut hari Nyepi.

Ogoh-ogoh memberikan nilai positif kepada anak-anak muda agar kreatif, untuk mengembangkan kreatifitas positifnya.

Namun dalam hal ini, dengan adanya pandemi Covid 19, yang sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Mengingat penularannya dari droplets.

Serta adanya imbauan pemerintah, maka sebaiknya memang arak-arakan ogoh-ogoh untuk tahun ini bisa ditiadakan. Tujuannya jelas demi kesehatan dan keselamatan bersama. (ask)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved