Berita Internasional

Kisah Pilu Aktivis Myanmar yang Ditembak Mati saat Demo Anti-Kudeta, Kuburannya Digali Lalu Disemen

di antara puing-puing yang tersisa berserakan di sekitar kuburan, terdapat pisau cukur, sepatu bot karet, gaun bedah, sekop, dan sarung tangan plastik

Twitter @TostevinM via Kompas.TV
Angel (berkaos hitam Everything Will Be OK) di saat-saat terakhir hidupnya sebelum tertembak di kepala oleh polisi Myanmar, Rabu, 3 Maret 2021. Kisah Pilu Aktivis Myanmar yang Ditembak Mati saat Demo Anti-Kudeta, Kuburannya Digali Lalu Disemen 

TRIBUN-BALI.COM - Beberapa jam setelah keluarga, teman, dan ribuan pelayat mengubur tubuh Angel, tiba-tiba pasukan militer Myanmar memasuki pemakaman.

Mereka lalu membuang bunga dan karangan bunga yang sebelumnya diletakkan dengan hati-hati, lantas menggali kuburannya.

Keesokan paginya, dalam rekaman yang dibagikan ke CNN dan dari laporan saksi, di antara puing-puing yang tersisa berserakan di sekitar kuburan, terdapat pisau cukur, sepatu bot karet, baju bedah, sekop, dan sarung tangan plastik berlumuran darah.

Makam Angel telah diisi dengan semen, dengan lempengan abu-abu tebal sebagai pengganti bunga dan tribute.

Kemarahan dan kesedihan orang-orang terdekat Angel meletus untuk kedua kalinya.

Baca juga: Myanmar Semakin Mencekam, Jumlah Korban Jiwa akibat Menentang Junta Militer Terus Bertambah

Dilansir CNN.com, Angel, yang bernama asli Ma Kyal Sin, tewas setelah ditembak mati di bagian kepala di kota Mandalay pada 3 Maret 2021.

Ia saat itu melakukan demonstrasi menentang kudeta militer yang menggulingkan pemerintah terpilih Myanmar.

Mengenakan T-shirt dengan slogan "Everything will be OK," gadis berusia 19 tahun itu dengan cepat menjadi simbol perjuangan mematikan negara itu untuk demokrasi.

Citranya dibawa tinggi lewat tanda-tanda protes dan dalam karya seni yang dibagikan secara online.

Sedikitnya 80 orang telah tewas dan ratusan lainnya luka-luka sejak kudeta tersebut, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Lebih dari 2.000 orang telah ditahan, dengan tuduhan penyiksaan dan penghilangan paksa.

Banyak yang belum terdengar sejak itu.

Korban yang berjatuhan memicu amarah yang membara dan tekad yang menurut para aktivis tidak akan bisa dipadamkan dengan mudah.

"Kami akan berjuang sampai akhir, kami tidak akan pernah mundur, kami tidak akan takut," kata Min Htet Oo, seorang teman Angel yang bersamanya saat dia meninggal.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved