Myanmar

Korban Terbaru, 12 Warga Sipil Tewas dalam Aksi Protes Anti-kudeta Militer Myanmar

Beberapa pedemo lainnya dihabisi di pusat Kota Pyay dan dua orang tewas dalam tembakan polisi di Yangon. Seorang biksu ikut menjadi korban.

Editor: DionDBPutra
FOTO AP via KOMPAS.COM
Orang-orang menangis menatap tubuh Kyal Sin, yang juga dikenal dengan nama China-nya Deng Jia Xi, seorang mahasiswa berusia 20 tahun yang ditembak di kepala saat ikut unjuk rasa protes anti-kudeta di Mandalay, Myanmar, Rabu 3 Maret 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, NAYPIYDAW- Korban jiwa jatuh lagi di Myanmar. Menurut kabar terbaru sedikitnya 12 orang terbunuh dalam aksi protes anti-kudeta militer.

Kantor Reuters pada Minggu 14 Maret 2021 melaporkan, lima orang ditembak mati dan beberapa lainnya cedera ketika polisi melepaskan tembakan ke arah para demonstran di Mandalay.

Mandalay merupakan kota terbesar kedua di Myanmar yang dilanda kudeta militer pada 1 Februari 2021.

Beberapa pedemo lainnya dihabisi di pusat Kota Pyay dan dua orang tewas dalam tembakan polisi di Yangon, di mana 3 orang telah dibunuh pada malam hari. Demikian menurut laporan media setempat.

Baca juga: Kisah Pilu Aktivis Myanmar yang Ditembak Mati saat Demo Anti-Kudeta, Kuburannya Digali Lalu Disemen

Baca juga: Myanmar Semakin Mencekam, Jumlah Korban Jiwa akibat Menentang Junta Militer Terus Bertambah

"Mereka (pasukan keamanan) bertindak seperti dalam zona perang terhadap masyarakat tak bersenjata," kata aktivis yang berbasis di Mandalaay, Myat Thu.

Pria itu mengatakan jumlah kematian tersebut termasuk anak 13 tahun. Si Thun Tun, seorang demonstran lainnya, mengatakan melihat 2 orang ditembak, termasuk seorang biksu Buddha.

"Salah satu dari mereka terkena tembakan di tulang kemaluan, satu lagi ditembak mati hingga tewas," ujarnya.

Di Kota Pyay, saksi mata mengatakan pasukan keamanan awalnya menghentikan sebuah ambulans untuk menjangkau yang terluka dan menyebabkan satu kematian.

Seorang sopir di Chauk, kota di pusat Magwe Region, juga tewas setelah ditembak di dada oleh polisi. Hal ini menurut cerita teman keluarga korban.

Juru bicara junta iliter tidak mau menjawab panggilan telpon dari Reuters untuk menanggapi perkembangan bentrokan yang terjadi.

Junta militer dalam siaran berita malam di MRTV melabeli para demonstran sebagai "kriminal", tapi tidak menjelaskan lebih jauh mengapa orang-orang itu dibunuh.

Kelompok advokasi Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik mengatakan bahwa lebih dari 70 orang telah tewas di Myanmar dalam aksi protes yang meluas melawan militer yang merebut kekuasaan dalam negeri.

Baca juga: PBB Sebut Myanmar Dikendalikan Rezim Pembunuh, Pedemo yang Tewas Sedikitnya 70 Orang

Kematian itu terjadi ketika para pemimpin Amerika Serikat, India, Australia, dan Jepang bersumpah untuk bekerja sama memulihkan demokrasi di negara Seribu Pagoda itu.

Hari Sabtu 13 Maret 2021, pemimpin pemerintah sipil paralel Myanmar, Mahn Win Khaing Than, untuk pertama kali berbicara kepada publik.

"Ini adalah saat paling gelap bangsa dan saat fajar sudah dekat," kata Mahn Win Khaing Than melalui Facebook.

Mahn Win Khaing Than ditunjuk sebagai wakil presiden oleh perwakilan anggota parlemen Myanmar yang digulingkan, Komite untuk Mewakili Pyidaungsu Hluttaw (CRPH), yang mendorong pengakuan sebagai pemerintah yang sah.

Mahn Win Khaing Than bersama sebagian besar pejabat senior dari Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) saat ini masih bersembunyi.

“Untuk membentuk demokrasi federal, yang diinginkan oleh semua etnis bersaudara, yang telah menderita berbagai jenis penindasan dari kediktatoran selama beberapa dekade, revolusi ini adalah kesempatan bagi kita untuk menyatukan upaya kita,” kata Mahn Win Khaing Than.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com berjudul Junta Militer Myanmar Kembali Bunuh 12 Orang Tak Bersenjata dalam Aksi Protes Anti-kudeta


Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved