Breaking News:

Berita Buleleng

Suwirta Temukan Banyak Pohon Sonokeling di Hutan Negara Buleleng Dalam Keadaan Terderes

banyak pohon sonokeling yang ditebang, dibakar bagian bongkolnya, serta dikuliti sampai akhirnya pohon mati dan tumbang dengan sendirinya.

istimewa
Suwirta menujukan kondisi salah satu pohon sonokeling yang tumbuh di kawasan hutan negara Desa Lokapaksa dalam keadaan terderes. 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Hutan negara yang ada dibawah UPT Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Bali Utara yang terletak di Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Buleleng diduga dibabat oleh sejumlah oknum, kemudian dialihkan ke pertanian porang.

Hal ini lantas membuat seorang warga di desa tersebut bernama Kadek Suwirta (44) geram.

Ia berharap aparat penegak hukum dapat melakukan tindakan tegas, agar hutan dengan luas mencapai 400 hektar itu tetap lestari. 

Dikonfirmasi Rabu (17 Maret 2021), Suwirta mengatakan, kasus pembalakan liar ini baru ia ketahui sekitar dua bulan yang lalu, saat melakukan kegiatan adventure dengan motor trail.

Kala itu, Suwirta mengaku tidak diizinkan masuk ke wilayah hutan oleh seorang oknum.

Penasaran, Suwirta  pun diam-diam tetap masuk ke kawasan hutan tersebut, hingga akhirnya menemukan banyak pohon sonokeling yang ditebang, dibakar bagian bongkolnya, serta dikuliti sampai akhirnya pohon mati dan tumbang dengan sendirinya.

Baca juga: Lewis Hamilton Menentang Penebangan Hutan untuk Bangun Sirkuit Baru di Rio

Baca juga: Tertimpa Pohon Saat Lakukan Penebangan, Nyawa Sunantra Tak Tertolong

"Hampir 50 persen hutan rusak. Kemudian dialihkan ke pertanian porang. Saya sangat miris melihat. Hutan itu seperti tidak layak lagi disebut hutan, karena sudah berubah jadi pertanian," ucapnya. 

Atas temuan itu, Suwirta pun mengaku telah melapor ke Perbekel Desa Lokapaksa, serta ke pihak KPH Bali Utara. Laporan itu kata Suwirta sudah sempat ditindaklanjuti odengan menerjunkan sejumlah personel Polhut. 

Dengan adanya kejadian ini, Suwirta pun berharap para penegak hukum  dapat memberikan tindakan tegas kepada oknum-oknum yang diduga telah melakukan pembabatan hutan tersebut. 

"Yang dibabat pohon sonokeling sebesar lengan, jumlahnya mencapai ribuan pohon. Pohon yang paling besar dikuliti  atau dibakar sampai akhirnya pohon itu mati sendiri. Yang melakukan pembabatan ini saya  tidak tau siapa. Saya hanya ingin agat hutan ini tetap lestari. Kalau memang hutan ini diizinkan untuk digarap oleh petani, saya harap izinnya dicabut saja, karena kondisinya sudah rusak parah," katanya. 

Halaman
12
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved