Breaking News:

Kesehatan

Kenali Ketegangan Kontraksi Otot Pada Mulut Vagina Atau Yang Biasa Disebut Vaginismus

Otot pubococcygeus berperan dalam proses buang air besar dan buang air kecil, melahirkan, berhubungan seksual, dan orgasme

Ilustrasi
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Bukan hanya laki-laki, perempuan juga bisa saja mengalami gangguan pada disfungsi seksual. Salah satu contoh kelainan seksual pada wnita yang sering terjadi dan bahkan sering diabaikan salah satunya adalah vaginismus. 

Menurut, Dokter spesialis kandungan dan kebidanan dari Bamed Women’s Clinic Ni Komang Yeni Dhana Sari mengatakan, vaginismus ini bisa terjadi karena ketegangan atau kontraksi otot di sekitar mulut vagina, yang ada di area perineum hingga otot levator ani dan otot pubococcygeus yang terjadi secara persisten atau berulang. 

"Otot pubococcygeus berperan dalam proses buang air besar dan buang air kecil, melahirkan, berhubungan seksual, dan orgasme," ungkapnya pada, Sabtu (20 Maret 2021). 

Lebih lanjutnya dr.Yeni menjelaskan bahwa, kontraksi yang berlebihan menyebabkan wanita merasakan nyeri saat penetrasi. Vaginismus ini dilanjutkannya bisa terjadi dalam beberapa tingkatan, yang paling parah adalah vaginismus total. 

Pada tingkatan ini, sama sekali tidak bisa dimasukkan benda dalam bentuk apa pun ke vagina.

Baca juga: Awas, Ini 10 Makanan dan Minuman yang Tidak Mampu Menjaga Keseimbangan Bakteri di Vagina

Baca juga: Selain Enak, Makanan & Minuman Ini Juga Dapat Menyehatkan Vagina

Baca juga: Merapatkan Vagina, Mitos Soal Miss V Yang Masih Sering Dipercaya

Karena itu, jika wanita sudah mengalami tingkatan ini, akan berakibat wanita sering kali menghindari hubungan seksual karena takut merasakan nyeri yang tidak wajar

"Tapi ada kalanya vaginismus terjadi situasional, misalnya menolak berhubungan dengan orang itu saja, tapi bisa dengan orang lain atau dalam kondisi tertentu," lanjutnya.

Meski banyak wanita yang mengalaminya, namun Yeni mengakui hingga saat ini beum ditemukan faktor risiko yang bisa memicu terjadinya vaginismus karena penelitiannya masih sangat sedikit.

Namun, dari sebuah studi terhadap 89 wanita yang memiliki pengalaman gangguan ini ditemukan bahwa ada tiga faktor penyumbang yang paling umum, yaitu ketakutan akan seks yang menyakitkan dan pengalaman traumatis di usia dini. 

Faktor traumatis ini beragam, salah satunya dikatakan Yeni karena faktor psikologi, yang sejak kecil dididik bahwa seks itu tabu dan tidk boleh dilakukan.

Sehingga setelah menikah pola pikirnya masih sama dan menganggap melakukan hubungan seks hal yang memalukan. 

Meski tidak menyebabkan kematian, vaginismus bisa berbahaya jika dibiarkan, karena ggangguan ini bisa menimbulkan beberapa komplikasi, antara lain meningkatkan kemungkinan terjadinya infertilitas dan tindakan Caesar pada saat melahirkan.

Kondisi ini juga mengganggu penderitanya secara emosional, menimbulkan rasa tidak percaya diri dan menurunkan kualitas hidup, dan bisa berujung pada ganggan psikiatri. (*) 

Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved