Breaking News:

Berita Bali

Tingkatkan Pengetahuan dan Spiritualitas, PPSAKK Pusat Beri Penataran ke Pemangku dan Serati Se-Bali

Penataran diikuti oleh pemangku-pemangku dadia dari perwakilan Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin (PPSAKK) Kabupaten/Kota/Cab

Istimewa
Kegiatan penataran pemangku dan serati Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin (PPSAKK) pusat, di Desa Gelgel, Minggu 21 Maret 2021 

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Guna meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pemangku terhadap makna dan tatacara pelaksanaan upacara agama sehari-hari, pengurus Pusat Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin (PPSAKK) Pusat, memberikan pemahaman Pemangku dan Serati PPSAKK Se-Bali 2021, agar dapat menjaga hindu Bali dan dapat menggali pengetahuan, meningkatkan spiritualitas, merajut pasemetonan.  

Ketua Umum PPSAKK Pusat Prof. Dr. I Ketut Mertha,SH.M.Hum di Wantilan Pura Kawitan Pedharman Dalem Tugu Desa Gelgel, Klungkung, Minggu 21 Maret 2020 mengatakan, kegiatan yang tetap mematuhi protokol kesehatan ini juga bertujuan agar pengalaman yang didapat para pemangku dan serati dapat disinergikan  dengan nilai-nilai agama, nilai filosofi, tatwa agama hindu yang adhi luhung.

"Sehingga kualitas kepemangkuan dan serati di pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin dapat meningkat dengan diisi pemahanan yang lebih matang terhadap ajaran agama yang adhi luhung, yang didasari kitab suci weda, etika dan tatwa," ucapnya.

Baca juga: Disbud Denpasar Targetkan Esok 300 Sulinggih, Pemangku, hingga Seniman Bisa Tervaksin Covid-19

Baca juga: 42 Desa di Gianyar Bentuk Organisasi Pemangku dan Serati Banten

Penataran diikuti oleh pemangku-pemangku dadia dari perwakilan Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin (PPSAKK) Kabupaten/Kota/Cabang Se-Bali sejumlah lebih dari 90 orang.

"Penataran pemangku merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap tahun dan sudah menjadi agenda tahunan bagi Pengurus PPSAKK Pusat," ucapnya.

Prof. Mertha juga mencontohkan yang harus dipahami mangku dan serati terkait “Caru Ekasata”, apa itu caru ekasata? apa saja kelengkapan bantennya?, bagaimana tata letaknya, bagaimana mantranya, bagaimana pelaksanaannya dan sebagainya, sehingga jelas maksud dan tujuannya tidak berdasarkan mula keto

Sebab jika ada yang salah dalam pelaksanaannya, dampaknya semua umat akan merasakan akibatnya, seperti; sakit, grubug seperti covid-19 sekarang ini, ribut sesama semeton hingga yang paling fatal adalah kematian yang tanpa sebab. 

Jadi dalam pelaksanaan kegiatan upacara bukan megah dan mewahnya yang dilihat tapi ketepatan dan kebenaran sesuai sastra agama.

Sehingga jika upacara dilakukan secara benar bisa dikatakan upacara itu mengandung unsur satwika.

"Dengan kegiatan penataran ini kita berharap semua memiliki pemahaman yang jelas tentang upacara “tidak kejok lantang”, ujarnya. 

Halaman
12
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved