Breaking News:

Berita Bali

Bersama Para Seniman Bali, Garin Nugroho Bawakan Teatrikal Puisi Adam, Hawa dan Durian

Sutradara kenamaan Indonesia Garin Nugroho bawakan teatrikal puisi dalam acara Pembacaan Teaterikal Puisi bertajuk Segalanya Cinta di Ratu Restaurant,

Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Suasana pementasan teaterikal antologi puisi Adam, Hawa dan Durian karya Garin Nugroho di Ratu Restaurant 

Pementasan ini disutradarai oleh Seniman Muda, Legu Adi Wiguna.

Dalam proses kreatif ini, Legu Adi Wiguna menyusun naskah 'Segalanya Cinta' yang berasal dari teks bait-bait puisi Garin Nugroho dalam bentuk pementasan pembacaan teatrikal.

Acara ini dibuka dengan pembacaan puisi oleh Aktris Film Happy Salma, pentas musikalisasi oleh Kelompok Seketika (Heri Windi Anggara dkk.), testimoni oleh Budayawan Jean Couteau dan sambutan pembuka oleh Rektor ISI Denpasar, Prof Dr. Wayan 'Kun' Adnyana, S.Sn., M.Sn.

“Acara ini dirancang untuk memberikan ruang kreativitas seniman di Bali agar nafas seni tetap terjaga, acara Live Virtual ini tentunya menerapkan protokol kesehatan dalam pelaksanaanya,” ujar Ketua Panitia, Tantri Kusuma.

Ia menambahkan bahwa Ratu Restaurant telah merancang beragam program-program seni di masa mendatang guna membangkitkan gairah kreativitas di Bali khususnya Kuta.

Baca juga: Teater Sastra Welang Luncurkan Pembacaan Puisi Kolosal 31 Seniman Bali Lintas Generasi 

Garin Nugroho disela acara mengatakan sebetulnya buku ini Adam, Hawa dan Durian adalah bagian dari seorang pencipta film karena di dalam film terkandung unsur sastra termasuk puisi dan banyak lainnya.

"Beberapa film saya kan juga muncul idenya dari puisi, seperti Puisi Tak Terkuburkan (A Poet) itu dari penyair almarhum Ibrahim Kadir. Nanti saya akan bikin film horor bulan Juni, judulnya Puisi Cinta Yang Membunuh. Ada disini contohnya (relasi sastra dan film)," ungkap Garin Nugroho.

Jadi kata Durian diambil dan dipilih olehnya karena paradoks, susah bukanya, berduri tapi enak rasanya tapi bisa buat penyakit dan sebagainya.

"Maka Adam, Hawa dan Durian untuk menunjuk tempat, menunjuk paradoks duriannya itu," imbuhnya.

Prof. Dr. Wayan Kun menyampaikan, harapannya tahun 2021 ini adalah akhir kemudian kita bisa berbahagia merasakan Segalanya Cinta kedepannya.

Halaman
123
Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved