Breaking News:

Serba serbi

PHDI Bali: Diksa Massal Bisa Dilakukan Asal Satu Nabe Satu Sisya

Fenomena diksa massal, turut ditanggapi oleh Ketua PHDI Bali, I Gusti Ngurah Sudiana. Guru besar IHDN ini, menjelaskan bahwa apabila diksa massal itu

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/Putu Supartika
Ketua PHDI Bali, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Fenomena diksa massal, turut ditanggapi oleh Ketua PHDI Bali, I Gusti Ngurah Sudiana.

Guru besar IHDN ini, menjelaskan bahwa apabila diksa massal itu dilakukan di satu tempat sah-sah saja.

Namun asalkan satu guru nabe mendiksa satu calon sulinggih.

Bukan satu guru nabe untuk mendiksa banyak sulinggih. Persepsi ini yang Sudiana ingin luruskan.

“Jika ada gurunya masing-masing dilakukan di satu tempat, dengan nabenya masing-masing boleh. Tetapi jika diksa massal satu guru, dengan 10 murid misalnya, nah ini yang tidak bisa,” tegasnya di Denpasar, Senin 29 Maret 2021.

Sebab belum pernah dilakukan sebelumnya di Bali.  

Baca juga: UPDATE Dugaan Pencabulan yang Dilakukan IWM, Ketua PHDI Bali: Oknum Itu Belum Sulinggih Tapi Bawati

Baca juga: Coreng Nama Kesulinggihan, MDA Bali Sayangkan Sulinggih Tersandung Kasus Hukum

Kemudian tidak ada ketentuan dari Parisadha yang memberikan izin kepada seorang nabe, melakukan diksa massal seorang diri.

“Namun apabila diksa massal 5-10 orang, dengan satu nanak satu nabe dalam satu tempat. Sudah pernah terjadi di beberapa tempat,” sebut Sudiana. Seperti di Karangasem, Bongkasa, dan beberapa tempat lainnya.

Sudiana menegaskan, dalam proses diksa minimal satu nabe untuk satu sisya calon sulinggih.

“Sebab menurunkan keilmuan saat madiksa berbeda dengan orang mau wisuda,” tegasnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved