Breaking News:

Serangan di Mabes Polri

Radikalisme Sasar Milienial, Ahmad Nurwakhid: Hati-hati, Waspada, dan Jangan Diikuti

Ahmad mengatakan radikalisme banyak menjangkiti mereka yang berusia 20 sampai 39 tahun karena beberapa faktor.

Tribunnews/Jeprima
Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid bersama Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan saat mengikuti sesi wawancara khusus dengan Tribun Network di Gedung Tribunnews, Jakarta Pusat, Kamis 1 April 2021. Pada pembahasan kali ini mengangkat isu terorisme yang ada saat ini - Radikalisme Sasar Milienial, Ahmad Nurwakhid: Hati-hati, Waspada, dan Jangan Diikuti 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - DIREKTUR Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid mengatakan radikalisme banyak menjangkiti generasi milenial berdasarkan tingkat keterpaparannya dibandingkan generasi Z yang berusia 14 sampai 19 tahun dan generasi X yang berusia 40 tahun ke atas.

Ahmad mengatakan radikalisme banyak menjangkiti mereka yang berusia 20 sampai 39 tahun karena beberapa faktor.

Pertama karena generasi milenial ada di masa pertumbuhan yang tingkat kedewasaannya masih pembentukan dan masih mencari jati diri.

Selain itu, kata dia, emosi mereka belum stabil dan senang dengan tantangan.

Baca juga: Keluarga Besar Putra Putri Polri Bali Dukung Penuh Tindakan Tegas Polisi Lawan Terorisme

Baca juga: 16 Organisasi Mahasiswa Bali Kecam Terorisme, Gelar Doa Bersama di Depan Bajra Sandhi

Baca juga: 16 Organisasi Mahasiswa di Bali Kecam Aksi Terorisme di Makassar, dan Sampaikan Pernyataan Sikap Ini

Selain itu, kata Ahmad, kecenderungan semangat keagamaan mereka tinggi.

"Ini mudah sekali keterpaparannya apalagi dengan maraknya atau fenomena dunia maya. Apalagi tentu saja generasi milenial yang banyak menggunakan fasilitas dunia maya ini," kata Ahmad ketika berbincang dengan Wakil Direktur Pemberitaan Tribun Network Domuara D Ambarita di kantor redaksi Tribunnews Jakarta, Kamis 1 April 2021.

Untuk itu, kata dia, BNPT telah membuat sejumlah strategi pencegahan pemaparan radikalisme terhadap mereka di antaranya dengan menguatkan dan melibatkan secara aktif dan peoduktif civil society moderat, rokoh agama, dan civitas academic.

Pencegahan tersebut, kata Ahmad, dalam rangka memberi "vaksin" berupa pembangunan karakter dan mengajarkan budi pekerti.

Hal itu karena menurutnya puncak dari keagamaan bukan pada tindakan jihad sebagaimana yang dipahami oleh penganut paham radikal.

Untuk itu, ia mengajak generasi milenial untuk tidak mengikuti baik akun media sosial maupun ajaran ustaz-ustaz intoleran dan radikal.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved