Breaking News:

Wawancara Tokoh

Kisah di Balik Kemenangan Nyoman Nuarta Mendesain Ibukota Negara Baru : Saya Nggak Nyangka

Proses di balik terpilihnya ia sebagai pemenang sayembara, Tribun Bali mewawancarai Seniman Nyoman Nuarta. Tak menyangka,mengaku biasanya sering kalah

istimewa
Nyoman Nuarta, seniman asal Tabanan, yang kini tinggal di Bandung, Jawa Barat memenangkan desain ibukota yang baru. Kisah di balik menangnya Nyoman Nuarta di sayembara tersebut ada di dalam artikel ini. 

Misalnya seorang arsitek bikin patung kalau bisa, ya boleh.

Kebebasan kan dilindungi undang-undang.

Dan semua kemudian menjadi keputusan Presiden untuk memilih mana konsep desain yang dianggap memenuhi syarat. Mungkin kemudian kebetulan konsep saya yang dinyatakan sebagai pemenangnya dan kemudian diumumkan pada 29 Maret 2021 kepada publik melalui media.

Kemudian bagaimana tanggapan Anda mengenai adanya anggapan bahwa seleksi tersebut tertutup dan terkesan tidak transparan?

Lho itu ada arsitek, yang diundang ada 12 arsitek dan cuma lima saat itu yang datang, yang diundang itu Gregorius Antar Awal (IAI), Gregorius Supie Yolodi (IAI), Isandra Matin Ahmad (IAI), Sibarani Sofian (MUDO), Nyoman Nuarta, Pierre Natigor Pohan, Grace Christiani, Dian Ratih N Yunianti, M Iqbal Tawakal, dan Achmad Reinaldi Nugroho. Lalu yang datang saat itu hanya Andra Matin, Gregorius Supie Yolodi, Yori Antar, Nyoman Nuarta, dan Sibarani Sofian.

Masalah undangan itu kan hak PUPR ya. Kan biasa mau ngundang ada beauty contest lah, karena dinilai orang-orang yang pengalaman. Itu barangkali ya. Kriteria, ya lebih bagus tanya Pak Menteri PUPR. Saya kan hanya pengikut atau peserta.

Mengapa harus menggunakan burung Garuda dalam desain istana tersebut? Mengapa tidak seperti istana-istana di Eropa atau Amerika yang lebih mengedepankan nilai-nilai klasik?

Sekarang, kalau menyebut nama burung Garuda, maka itulah Indonesia. Negeri dengan sejarah panjang, yang dikarunia keragaman etnis dan bahasa, serta hutan tropis dengan kekayaan vegetasi yang tak ternilai harganya.

Baca juga: Tanggapi Kritik Desain Istana Negara Baru, Nyoman Nuarta: Arsitek Bikin Patung Kalau Bisa Ya Boleh

Itu artinya, ketika kita menyebutkan nama “Garuda”, maka itulah sebuah rumah besar (istana) bagi persaudaraan, persatuan, dan kerukunan hidup bersama. Apalagi kalau kita ingat semboyan yang tertulis dalam pita yang dicengkeram jari-jari kaki Garuda, Bineka Tunggal Ika. Kita berbeda, tetapi tetap menjadi satu jua.

Jadi pada posisi itu akan menjadi simbol pemersatu bangsa. Ia mengatasi segala perbedaan, segala silang pandang, segala keragaman adat istiadat dan perilaku, dan bahkan perbedaan kepercayaan dan agama.

Halaman
1234
Penulis: Ragil Armando
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved