Breaking News:

Serba Serbi

Seni Tari Sakral Sebagai Salah Satu Upaya Atasi Gering-Grubug di Bali, Ini Penjelasan Komang Gases

Komang Indra Wirawan, Dekan FKIP Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, menelaah Covid-19 dari lontar-lontar yang membicarakan gering-grubug ini

Tribun Bali/Rizal Fanany
ilustrasi tradisi Perang Pandan 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A  A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bali sejatinya sudah sejak lama mengenal istilah gering-grubug. Atau dalam bahasa Indonesia sama dengan bencana akibat alam dan manusia.

Komang Indra Wirawan, Dekan FKIP Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, menelaah Covid-19 dari lontar-lontar yang membicarakan gering-grubug ini.

Dalam sebuah diskusi tentang ‘Sasana Tarian Rangda’, pria yang akrab disapa Komang Gases ini menjelaskan pemikirannya.

Dalam lontar Purwaka Bumi Tua, Tatu Pagelaran, serta lontar Pamancangah Barong. Kemudian dalam tutur Barong Suari, Panca Durga, apabila gering agung atau grubug terjadi pada suatu daerah.

Baca juga: Banjar Bun Denpasar Membuat Tari Sakral Sang Hyang Jaran Anak-Anak

“Berhak dan patut dilakukan sebuah ritual upakara. Antara lain seni sakral, termasuk upakara di dalamnya. Hal tersebut karena diyakini pada saat itu, bhuta kala ngrebeda di jagat. Ini adalah lontar yang ‘berbicara’ bukan saya,” katanya Minggu 4 April 2021.

Dugaannya, berarti pada saat itu memang diwajibkan ketika ada gering-grubug, maka masyarakat diperlukan keyakinan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Coba kita telaah lagi, ada tradisi perang pandan, tradisi sanghyang, tradisi perang ketupat, ada makotekan, hingga calon arang,” sebut pria yang juga penari ini.

Latar belakang semua itu dilaksanakan, kata dia, karena ada dasarnya yaitu gering-grubug.

 Jadi tradisi-tradisi ini lahir dasarnya dari adanya gering-grubug.

Halaman
123
Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved