Breaking News:

Fatwa Terbaru MUI: Tes Swab Tidak Membatalkan Puasa

Umat Islam yang sedang berpuasa diperbolehkan melakukan tes swab untuk deteksi Covid-19.

Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional
Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana Jakarta, Senin 18 Mei 2020. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa terbarunya terkait hukum melakukan rapid test antigen dan Polymerase Chain Reaction (PCR) alias tes swab saat berpuasa.

Dalam fatwa nomor 23 tahun 2021 tentang hukum tes swab untuk deteksi Covid-19 saat berpuasa itu, Komisi Fatwa MUI menilai bahwa tes swab tidak membatalkan ibadah puasa sehingga dapat dilakukan pada siang hari.

"Pelaksaan tes swab sebagaimana dalam ketentuan umum tidak membatalkan puasa," kata Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Niam Sholeh, dalam keterangannya, Kamis 8 April 2021.

Baca juga: Ini Panduan Lengkap Pelaksanaan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 2021, Buka Puasa, Zakat dan Salat Ied

Baca juga: Ini Waktu Berbuka Puasa dan Jadwal Imsakiyah Kota Denpasar Bali

Asrorun mengatakan, tes swab adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus dengan cara pengambilan sampel dahak, lendir, atau cairan dari nasofaring dan orofaring.

Umat Islam yang sedang berpuasa diperbolehkan melakukan tes swab untuk deteksi Covid-19.

Menurut Ketua Komisi Fatwa MUI, Hasanuddin Abdul Fatah, swab test boleh dilakukan lantaran pengambilan sampel pada nasofaring atau bagian atas tenggorokan yang ada di belakang hidung, dan orofaring atau saluran antara mulut dan tenggorokan, tidak menyebabkan cairan masuk ke dalam tubuh hingga muntah.

"Pertimbangannya memang tidak ada hal-hal yang membatalkan puasa. Memasukkan lidi menyerupai korek kuping itu melalui hidung dan melalui mulut itu kedalamannya tidak sampai membuat orang muntah begitu kan. Hanya sifatnya paling maksimal merangsang untuk muntah saja," jelasnya.

Selain itu, alat sejenis cotton bud atau kapas lidi yang digunakan untuk mengambil sampel lendir termasuk kategori benda padat sehingga tidak membuat ibadah puasa menjadi batal.

Hasanuddin mengaku pihaknya juga telah meminta saran dari ahli kesehatan untuk memutuskan fatwa ini.

"Pernah saya tanyakan, di ujung lidi itu sama sekali tidak ada atau ada cairan atau apa begitu. Nah, menurut ahli tidak ada sama sekali, kering, jadi tidak apa-apa," kata dia.

Selain swab test, MUI sebelumnya juga menetapkan fatwa Nomor 13 Tahun 2021 tentang hukum vaksinasi Covid-19 saat berpuasa.

Menurut Asrorun Niam Sholeh, vaksinasi Covid-19 dilakukan dengan cara injeksi intramuskular.

Intramuskular merupakan teknik vaksinasi yang dilakukan dengan cara menyuntikkan obat atau vaksin melalui otot. Tindakan ini, kata dia, boleh dilakukan pada siang hari saat Ramadan dengan catatan tidak menimbulkan bahaya.(tribun network/fah/dod)

Editor: DionDBPutra
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved