Breaking News:

Berita Bali

Terkait Perkara Pencabulan Anak Kandung, Surat Putusan Hakim Belum Siap, Vonis Wayan S Ditunda

Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar menunda sidang pembacaan putusan terhadap terdakwa I Wayan S (29).

Ulrike Mai via Pixabay
Ilustrasi korban kekerasan - Terkait Perkara Pencabulan Anak Kandung, Surat Putusan Hakim Belum Siap, Vonis Wayan S Ditunda 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar menunda sidang pembacaan putusan terhadap terdakwa I Wayan S (29).

Ditundanya sidang, karena surat putusan majelis hakim belum siap.

Demikian disampaikan Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Denpasar, I Wayan Eka Widanta saat dikonfirmasi melalui telpon selularnya, Jumat, 9 April 2021.

Wayan S diadili karena merupakan pelaku pencabulan terhadap anak kandungnya.

Terdakwa asal Bangli ini, tega mencabuli anak kandungnya, inisial PF yang berumur delapan tahun ketika istrinya tengah melahirkan.

Baca juga: UPDATE: Kasus Sembuh Harian Covid-19 di Kota Denpasar 108 Orang, Dua Pasien Meninggal Dunia

Baca juga: 152 Ribu Warga Kota Denpasar Telah Terima Suntikan Vaksin Covid-19

Oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), terdakwa I Wayan S dituntut 14 tahun penjara, dan denda Rp300 juta subsidair 3 bulan kurungan. 

"Informasi dari jaksa putusan ditunda, karena putusan majelis hakimnya belum siap. Sidangnya akan kembali digelar dua minggu lagi," terang Eka Widanta.

Diberitakan sebelumnya, JPU dalam tuntutannya menilai terdakwa Wayan S secara sah terbukti dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pencabulan.

Terdakwa melanggar Pasal 81 Ayat (2), Ayat (3)  UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No.1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP. 

Baca juga: Tabung Gas Meledak, Rumah Dua Lantai di Panjer Denpasar Ludes Terbakar

Baca juga: Tiga Bulan Zona Merah Covid-19, Denpasar Kini Zona Oranye

Diketahui, terdakwa tega mencabuli anak kandungnya saat istrinya tengah melahirkan.

Awalnya sekitar bulan Mei 2019, terdakwa dan kedua anaknya (anak korban PF dan adiknya) menemani istrinya melahirkan di rumah sakit di Denpasar. 

Selanjutnya terdakwa mengajak kedua anaknya (anak korban PF dan adiknya) pulang ke rumah kost di Jalan Tukad Batanghari, Denpasar.

Sesampainya di kost, anak korban (PF) tiduran sedangkan terdakwa menonton film porno.

Saat itu lah terdakwa melakukan aksi bejatnya terhadap anak korban. Perbuatan terdakwa terhadap anak korban dilakukan lebih dari satu kali. (*)

Berita lainnya di Berita Bali
 

Penulis: Putu Candra
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved