Breaking News:

Berita Gianyar

Antisipasi Maling, Banjar Banda Gianyar Bali Pasang CCTV di Pura Penataran 

encurian benda sakral atau pratima di Kabupaten Gianyar, menjadi kasus pencurian yang tidak pernah terselesaikan oleh pihak kepolisian.

Tribun Bali/Eri Gunarta
Suasana di Pura Penataran, Banjar Banda, Desa Saba, Blahbatuh, Gianyar, Bali, Minggu 11 April 2021 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Pencurian benda sakral atau pratima di Kabupaten Gianyar, menjadi kasus pencurian yang tidak pernah terselesaikan oleh pihak kepolisian.

Bahkan pencurian sejak tahun 2021 ini, belum satupun yang bisa terungkap.

Berdasarkan hal tersebut, krama di Banjar Banda, Desa Saba, Blahbatuh, Gianyar, Bali ini memasang CCTV di setempat yang menyimpan pratima.

Informasi dihimpun Tribun Bali, Minggu 11 April 2021, CCTV yang di psang di pura tersebut,  merupakan punia dari krama pemaksan. Sebab belakangan ini maraknya pencurian pretima dan kasusnya belum ada yang terungkap di Kabupaten Gianyar. 

Berdasarkan catatan Tribun Bali, Dalam kurun waktu 2020-2021, ada enam pura yang dibobol maling di Kabupaten Gianyar.

Tiga pura dibobol pada 2020, di antaranya, Pura Taman Limut di Desa Pengosekan, Kecamatan Ubud, Pura Gunung Sari, Desa Buruan, Kecamatan Blahbatuh dan Pura Sakenan, Banjar Tengah, Kecamatan Blahbatuh.

Banyak Benda Prasejarah di Pura, Desa Bedulu Aktifkan Pakemitan di Tengah Maraknya Pencurian Pratima

Waspada Pencurian Pratima, Kasat Reskrim Polres Bangli Imbau Desa Adat Pasang CCTV & Gelar Pekemitan

Cegah Pencurian Pratima di Pura, MDA Bangli Imbau Desa Adat Giatkan Mekemit

Sementara pada tahun ini, maling masuk ke beberapa pura, di antaranya Pura Dalem Sakti, Desa Adat Petemon, Banjar Pejeng Kelod, Kecamatan Tampaksiring, Pura Bendesa Manik Emas Batan Tingkih, Banjar Kesian, Desa Lebih, Kecamatan Gianyar.

Dan yang terbaru pencurian di Pura Tegallantang, Desa Adat Tegallatang, Kelurahan/Kecamatan Ubud.

Penyarikan Pura , Gede Raka dan I Made Dearta pun membenarkan hal tersebut.

Kata mereka, punia CCTV ini timbul atas kesadaran krama untuk menjaga benda sakral.

Namun demikian, kata mereka, dengan adanya CCTV ini, bukan berarti krama mengabaikan situasi wilayah pura. 

"Meski sudah diawasi secara degital, pekemitan tetap jalan, ada piketnya 10 orang setiap hari. Karena pekimitan adalah tradisi subakti, harus tetap dijalankan," ujar Gede Raka.

Kata dia, pada pura ini, terdapat sejumlah pretima dan tapakan berupa Ida Ratu Gede Barong Ket dan Ida Ratu Ayu berwujud rangda.

Selain itu terdapat juga sejumlah uang kepeng kuno.

CCTV yang dipasang ini pun langsung menyorot ke halaman pura menuju gedong penyimpenan. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved