Breaking News:

Berita Bali

Upacara Kuru Kudu Umbu Landu Paranggi di Taman Makam Mumbul Bali, Umbu Berpuisilah dari Ruang Sunyi

Jenazah penyair Umbu Landu Paranggi diupacarai Kuru kudu untuk mengantarkan ke peristirahatan sementara.

Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Istimewa
Sc Live Streaming Youtube Sumba TV - Acara Kuru Kudu untuk penyair Umbu Landu Paranggi - Upacara Kuru Kudu Umbu Landu Paranggi di Taman Makam Mumbul Bali, Umbu Berpuisilah dari Ruang Sunyi 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Jenazah penyair Umbu Landu Paranggi diupacarai Kuru kudu untuk mengantarkan ke peristirahatan sementara.

Upacara kuru kudu dihadiri oleh pihak keluarga, pengurus Flobamora Bali, sastrawan dan budayawan yang juga murid-murid Umbu Landu Paranggi (ULP), acara berlangsung khidmat, di Taman Makam Mumbul, Nusa Dua, Badung, Bali, Senin 12 April 2021.

“Pak Umbu, berpuisilah dari ruang sunyi, karena aksara itu adalah aksara yang hidup yang bisa mempengaruhi dunia ini,” kata Umbu Rihimeha Anggung Praing, menantu Umbu Landu Paranggi, saat menutup sambutannya dalam acara kuru kudu untuk ULP.

Kuru kudu merupakan sebuah upacara untuk peristirahatan sementara sebelum nantinya jenazah dikirim ke tanah kelahirannya, Sumba.

Baca juga: Umbu, Berpuisilah dari Ruang Sunyi

Baca juga: Jatijagat Kampung Puisi Gelar Malam Doa untuk Umbu Landu Paranggi, Jengki: Sosok Tak Tergantikan

Baca juga: Esok Akan Digelar Upacara Kurukudu di Mumbul, Antarkan Umbu Landu Paranggi ke Ruang Sunyi

“Ini merupakan tempat peristirahatan sementara, dan berarti Pak Umbu masih ada di sekitar kita, belum mengendarai kuda putih, kuda merah untuk sampai ke surga,” kata Rihimeha.

Ia pun mengenang, setamat kuliah S2, dirinya bertandang ke Lembah Pujian yang menjadi kediaman ULP.

Di sana, ULP berkata padanya, bahwa S2 itu sudah banyak, tetapi S2 itu tergantung dari bacaannya.

“Pak Umbu berkata, ‘kau harus selalu ada di dalam ruang sunyi, sepi dalam keheningan.’ Saya waktu itu tidak mengerti, karena bukan sastrawan dengan apa yang mertua saya katakan. Saya mencari di buku dan ketemu di buku Madam Teresa, tidak ada manusia yang menemui Tuhan dalam suasana hiruk-pikuk,” katanya.

Ia pun menambahkan, banyak nilai yang diberikan oleh Umbu kepadanya juga kepada murid-muridnya.

“Karena itu, benang-benang nilai harus ditenun jadi selimut, karena nilai yang akan menutupi moral kita,” katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved