Breaking News:

Berita Denpasar

Jam Dibatasi dan Tak Dipimpin Pemangku, Persembahyangan Galungan di Jagatnata Denpasar Bali

Pura Agung Jagatnatha yang berlokasi di Jalan Surapati, Denpasar, Bali, menjadi tujuan utama para pamedek

(Tribun Bali/Rizal Fanany)
Umat Hindu melaksanakan persembahyangan Hari Raya Galungan di Pura Agung Jagatnatha, Denpasar, Rabu 14 April 2021. Hari Raya Galungan merupakan perayaan kemenangan "Dharma" (kebenaran) melawan "Adharma" (kejahatan) yang diperingati dengan melakukan persembahyangan bersama di setiap pura di Bali - Jam Dibatasi dan Tak Dipimpin Pemangku, Persembahyangan Galungan di Jagatnata Denpasar Bali 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pura Agung Jagatnatha yang berlokasi di Jalan Surapati, Denpasar, Bali, menjadi tujuan utama para pamedek (umat Hindu yang bersembahyang), terlebih mereka yang tinggal di perantauan.

Namun di tengah pandemi Covid-19 ini terdapat beberapa peraturan yang harus diikuti oleh pemedek yang akan bersembahyang di Pura Agung Jagatnatha.

Ketika ditemui, Ida Bagus Saskara selaku Pemangku Pura Agung Jagatnatha menjelaskan beberapa peraturan tersebut.

Ia mengatakan, pihaknya telah menjalankan amanat dari pemerintah dengan melakukan beberapa protokol Kesehatan.

Baca juga: Kegiatan Vaksinasi Covid-19 di Bali Dihentikan Saat Perayaan Galungan dan Idul Fitri 2021

Baca juga: BREAKING NEWS - Penghuni Keluar Rumah Saat Galungan, Sebuah Sanggah di Denpasar Bali Terbakar

Baca juga: Persembahyangan Galungan di Pura Jagatnatha Denpasar, Jam Dibatasi dan Tidak Dipimpin Pemangku

“Persembahyangan di Pura Jagatnatha ketika Galungan selama pandemi ini kami menjalankan amanat pemerintah. Kami dengan ketat menerapkan protokol kesehatan bagi pamedek yang lakukan persembahyangan. Untuk melakukan pembatasan, untuk mengantisipasi membeludaknya pamedek yang datang, kami buka dari jam 07.00 pagi hingga 21.00 malam sesuai dengan anjuran pemerintah. Jadi masyarakat kami persilakan mengatur waktunya agar bisa disesuaikan agar tidak menumpuk dengan sangat banyak di dalam Pura,” ungkapnya, Rabu 14 April 2021.

Selain pembatasan pada jam buka Pura, pihaknya juga tidak melakukan persembahyangan bersama atau yang biasanya dipimpin oleh pemangku.

Selain itu diakuinya jumlah pamedek yang datang ketika pandemi dan pada hari raya kegamaan, jumlahnya menurun.

“Kalau persembahyangannya tidak dilakukan Bersama. Jadi semua dipersilakan melakukan persembahyangan sendiri-sendiri, tidak seperti sebelumnya. Bahkan jumlah pamedek yang datang saat ini jauh berkurang dari yang sebelumnya. Kalau sebelum pandemi hampir membeludak, hampir memenuhi seluruh Pura Jagatnatha. Mungkin beberapa masyarakat masih pulang kampung, dan biasanya malam hari pamedek akan datang dengan jumlah yang lumayan banyak,” imbuhnya.

Dan alasan mengapa persembahyangan dilakukan tidak bersama atau sendiri-sendiri karena untuk mengefisiensikan waktu, agar para pamedek tidak berkumpul atau berkerumun di dalam Pura Jagatnatha.

“Alasan sembahyang tidak dipimpin karena kalau persembahyangan dipimpin oleh pemangku, jadi mereka nantinya akan terlalu lama berada di dalam Pura. Kita mempercepat proses persembahyangan dengan seperti itu, dan juga protokol kesehatan juga harus diterapkan. Belum lagi nantinya ada pamedek yang antre di luar Pura, kan jelas membuat kerumunan. Dan kita sudah berkoordinasi dengan pemerintah agar ketika masyarakat bersembahyang tidak dipimpin oleh pemangku. Dan untuk menghaturkan banten tetap dipersilakan, namun hanya saja bersembahyangnya sendiri-sendiri,” tambahnya.

Ketika disinggung apakah hal tersebut akan mengurangi makna dari persembahyangan, Jero Mangku Saskara mengatakan, peraturan seperti itu tidak mengurangi makna persembahyangan karena persembahyangan itu tergantung niat dan pikiran dari masing-masing pribadi setap orang.

“Semua itu tidak mengurangi makna persembahyangan, karena persembahyangan itu dijalankan dari hati. Tidak harus dipimpin. Kalau dia tidak fokus dan lain sebagainya, itu kan percuma. Jadi kita berikan solusi seperti ini, sehingga protokol kesehatan tetap berjalan, dan berbakti kepada Tuhan juga berjalan,” paparnya. (*).

Kumpulan Artikel Denpasar

Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved