Breaking News:

Berita Badung

PN Denpasar Eksekusi Putusan Sengketa PKD di Desa Adat Semate, Tergugat Layangkan Gugatan Balik

Pihaknya pun telah melayangkan gugatan balik kepada Desa Adat Semate, Abianbase, Mengwi, Badung dan sedang berproses.

Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Suasana pembongkaran bangunan rumah kos yang berdiri diatas lahan sengketa PKD Desa Adat Semate, Abianbase, Mengwi, Badung. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

TRIBUN BALI.COM, MANGUPURA - Panitera Pengadilan Negeri (PN) Denpasar melaksanakan putusan sengketa lahan Desa Adat Semate atas tanah ayahan desa atau tanah pekarangan desa (PKD) seluas 659 meter persegi terhadap para tergugat, Rabu 28 April 2021.

"Tanah ini yang dikuasai secara melawan hukum oleh pihak para tergugat dan atas putusan pengadilan yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap.

Maka hari ini dilaksanakan eksekusi dari Pengadilan Negeri Denpasar untuk menyerahkan tanah sengketa yang dulunya dikuasai oleh para tergugat untuk diserahkan kepada pihak pemenang yaitu Desa Adat Semate," ujar Kuasa Hukum Desa Adat Semate, I Ketut Suwindra SH. MH.

Dimana kegiatan hari ini adalah proses dari pelaksanaan putusan ini dilaksanakan oleh PN Denpasar, sebelumnya telah diputuskan oleh PN Denpasar melalui tahap proses pembuktian di pengadilan.

Baca juga: Eksekusi Lahan di Desa Adat Abianbase Badung Dijaga Ketat Aparat, Bangunan Rumah Kos Dibongkar

Dan kemudian diputuskan tanah ini adalah tanah PKD, dimana tanah ini dari dulu memang tanah PKD dari leluhur kemudian yang menguasai tanah ini adalah I Nyarikan tapi kemudian putung atau tidak memiliki keturunan dan sudah meninggal akhirnya tanah ini harusnya kembali pada Desa Adat Semate.

"Tapi dikuasai oleh tergugat secara melawan hukum. Dari Dinas Pendapatan Kabupaten Badung juga mengeluarkan surat bahwa SPPT seluas 659 meter persegi adalah tanah PKD. Dengan pemohon eksekusi tidak ada hubungan keluarga," ungkap Ketut Suwindra.

Antonius I Made Rastika salah satu tergugat mengaku dirugikan atas adanya eksekusi tanah ini.

"Kami merasa sangat dirugikan dengan adanya eksekusi tanah kami oleh pihak-pihak yang mengklaim sebagai pemilik tanah yang telah kami kelola dan tempati sejak tahun 1960-an ini," imbuhnya.

Ia menambahkan berbagai upaya telah dilakukan untuk mempertahankan apa yang menjadi haknya, seperti mediasi, dialog namun rupanya upaya kami semua itu tidak mendapat tanggapan positif sehingga niat untuk pengambilalihan atau eksekusi terhadap sebidang tanah tersebut tetap dilakukan hari ini.

Halaman
12
Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved