Breaking News:

Bahlil Lahadalia Siap Gaet Investasi Rp 900 Triliun yang Dipatok Presiden Jokowi

Menurutnya, tugas besar yakni menciptakan pemerataan investasi antara Pulau Jawa dan Luar Pulau Jawa.

YouTube/Sekretariat Presiden
Pengambilan sumpah dan pelantikan Nadiem Makarim dan Bahlil Lahadalia sebagai menteri dalam nomenklatur baru Rabu 28 April 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia mengaku siap merealisasikan target investasi yang diminta Presiden Joko Widodo sebesar Rp 900 Triliun.

"Tahun ini kan Rp 856 triliun target dari Bappenas, tapi Bapak Presiden meminta Rp 900 triliun. Sebagai prajurit saya siap jalankan," ucap Bahlil dalam konferensi pers, Rabu 28 April 2021.

Bahlil memastikan investasi yang masuk Indonesia ke depan harus berkualitas.

Menurutnya, tugas besar yakni menciptakan pemerataan investasi antara Pulau Jawa dan Luar Pulau Jawa.

Baca juga: Pengamat Ekonomi dan Investasi Sebut Ekosistem Investasi Perlu Regulasi yang Jelas

Baca juga: Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Sebut Adanya Peningkatan Tren Investasi Cryptocurrency 

"Investasi tidak hanya di Pulau Jawa lagi. Ini semua dalam rangka memenuhi apa yang sudah dilakukan lima tahun kemarin terkait pembangunan infrastruktur," tegasnya.

Bahlil menerangkan Kementerian Investasi tidak hanya berbicara mengenai foreign direct investment, tetapi juga mendukung pengusaha dalam negeri.

Begitu juga perhatiannya tidak kepada pengusaha besar melainkan termasuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

"Bapak Presiden meminta kami untuk mengurus semua pengusaha, tidak boleh hanya mengurus satu negara saja atau satu daerah tertentu saja. Nggak boleh semua harus rata berdasarkan aturan," katanya.

Dia menegaskan hal ini bagian dari wujud implementasi sila keempat yakni demokrasi ekonomi.

"Yang terpenting percepatan perizinan itu mutlak karena menahan izin sama saja menahan laju pertumbuhan ekonomi nasional. Menahan izin sama juga menahan terciptanya lapangan pekerjaan," ujarnya.

Kontribusi sektor investasi 30 persen sedangkan konsumsi yang terbesar 60 persen, namun begitu konsumsi berarti harus bergantung daya beli masyarakat.

"Daya beli masyarakat bisa terwujud apabila adanya kepastian lapangan pekerjaan. Tidak mungkin lapangan pekerjaan dari pemerintah, pasti swasta (investasi) masuk membantu," katanya (reynas/tribunnetwork/cep)

Editor: DionDBPutra
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved