Breaking News:

Berita Bali

SUKA DUKA Kehidupan Guru di Bali: Dari Jualan Online hingga Perjuangan Mengajar Naik Turun Bukit

Suka Duka Kehidupan Guru di Bali: Dari Jualan Online hingga Perjuangan Mengajar Naik Turun Bukit

Istimewa
Anak Agung Ayu Eka Samudra Yanti (36), guru Seni dan Budaya di SMP N Satap 2 Batukandik saat mengajar siswa-siswinya. (Foto diambil sebelum pandemi) 

Awalnya ia mendapat gaji Rp 1,1 juta dipotong biaya BPJS Rp 50.000 sehingga yang diterima  Rp1.050.000.

Gaji yang ia terima hanya cukup untuk membeli makan sehari-hari dan kuota internet.

Ketut Wiku (dua dari kiri) saat berfoto bersama dengan guru SMPN 3 Tabanan lainnya beberapa waktu lalu. 
Ketut Wiku (dua dari kiri) saat berfoto bersama dengan guru SMPN 3 Tabanan lainnya beberapa waktu lalu.  (Dok. Istimewa)

"Kalau dihitung gaji kita hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Anggaplah kita menghabiskan Rp 30 ribu sehari saja, maka Rp 900 ribu dalam sebulan. Kemudian kuota internet Rp 125 ribu per bulan, kemudian uang bensin beberapa kali," ujar Tut Wiku.

Itulah sebabnya dia menjual baju secara online. Dia bersyukur usahanya itu masih bertahan.

"Astungkara usaha sampingan ini masih tetap bisa berjalan sampai saat ini. Semoga saja ke depannya bisa tetap menopang biaya hidup," ujarnya.

Pria kelahiran Jembrana 7 April 1992 ini  pernah mengikuti seleksi CPNS sebanyak dua kali namun belum berhasil. Untuk seleksi PPPK, ia baru mendaftar tiga hari lalu.

“Semoga seleksi PPPK ini bisa berhasil," harapnya.

Lain lagi kisah guru kontrak di Kota Denpasar.

Butuh waktu 11 tahun bagi I Gede Pramaartha Suyasa (44) naik status dari guru honorer menjadi guru kontrak.

Ia mengabdi sebagai guru honorer di SMKN 1 Denpasar sejak 2006 dan baru menjadi guru kontrak tahun 2017.

Halaman
1234
Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved