Breaking News:

Berita Bali

SUKA DUKA Kehidupan Guru di Bali: Dari Jualan Online hingga Perjuangan Mengajar Naik Turun Bukit

Suka Duka Kehidupan Guru di Bali: Dari Jualan Online hingga Perjuangan Mengajar Naik Turun Bukit

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Istimewa
Anak Agung Ayu Eka Samudra Yanti (36), guru Seni dan Budaya di SMP N Satap 2 Batukandik saat mengajar siswa-siswinya. (Foto diambil sebelum pandemi) 

Namun menurut pengakuannya, ada temannya yang berjuang lebih lama baru bisa menjadi guru kontrak.

Sebelum jadi guru honorer, ia sempat kerja di bidang pariwisata. Di sela bekerja, ia kuliah di IKIP PGRI Bali.

“Karena keluarga guru, jadi saya diminta orangtua untuk bisa jadi guru,” kata Prama saat dihubungi Minggu (2/5/2021).

Dia mengajar mata pelajaran IPS di  SMKN 1 Denpasar saat masih menggunakan Kurikulum 2006 dan mengajar Sejarah saat Kurikulum 2013 sesuai bidangnya.

“Karena memang senang jadi guru sehingga waktu itu saya santai menjalaninya tanpa mengeluh,” katanya.

Di awal mengajar, ia mendapat jatah 20 jam dengan bayaran per jamnya Rp 15.700 sehingga di bulan pertama ia mendapat gaji Rp 314.000.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya di Denpasar, ia nyambi buka  usaha catering.

Sepulang sekolah ia membantu istrinya melayani  catering hingga larut malam, bahkan sampai pagi jika pesanan banyak. Di sekolah ia diberikan tugas tambahan menjadi pembina OSIS dan Pramuka.

Prama tidak bisa ikut tes CPNS karena tidak memenuhi syarat.

“Masalah jadi honorer lama, karena pembukaan CPNS untuk bidang saya lama tidak ada. Kemudian pas ada pembukaan, saya terbentur usia, karena waktu itu umur saya 35 tahun sehingga tidak pernah bisa ikut CPNS,” tuturnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved