Breaking News:

Berita Bali

SUKA DUKA Kehidupan Guru di Bali: Dari Jualan Online hingga Perjuangan Mengajar Naik Turun Bukit

Suka Duka Kehidupan Guru di Bali: Dari Jualan Online hingga Perjuangan Mengajar Naik Turun Bukit

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Istimewa
Anak Agung Ayu Eka Samudra Yanti (36), guru Seni dan Budaya di SMP N Satap 2 Batukandik saat mengajar siswa-siswinya. (Foto diambil sebelum pandemi) 

Setelahnya sempat ada pembukaan Kontrak K2, akan tetapi ia juga tak memenuhi syarat karena yang bisa ikut maksimal mulai menjadi honorer mulai tahun 2005 sementara dirinya baru menjadi honorer tahun 2006.

Setelah 11 tahun berjuang menjadi guru honorer, akhirnya ia bisa lolos guru kontrak tahun 2017 hingga sekarang.

“Keadaan sekarang ini saya sudah sangat bersyukur karena diberikan kesempatan mengabdi di dunia pendidikan. Masalah status, baik honor, kontrak atau PNS, itu cuma perjalanan hidup saja. Saya sudah bersyukur sampai saat ini,” katanya.

Perjuangan Mengajar
Tak hanya soal penghasilan yang rendah, sejumlah guru di Bali juga memiliki kisah perjuangan yang tak mudah ketika mengajar.

Seperti kisah Anak Agung Ayu Eka Samudra Yanti (36).

Guru asal Abiansemal, Badung itu sudah 11 tahun jauh dengan keluarganya demi mendidik anak-anak di SMPN Satu Atap (Satap) 2 Batukandik Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.

Setiap hari ia mengendarai sepeda motor naik turun bukit sejauh 18 kilometer ke sekolah.

AA Ayu Eka Samudra Yanti menceritakan, ia dilantik sebagai guru seni dan budaya tahun 2010. Sampai saat ini, ibu dua orang anak ini mengabdi di SMP N Satap 2 Batukandik Nusa Penida.

"Awalnya saya tidak terbayang akan jadi guru di Nusa Penida, yang tempatnya jauh dan nyeberang lautan. Tapi menjadi guru tari memang cita-cita saya sejak kecil,”  ujar AA Ayu Eka Samudra Yanti, Minggu (2/5/2021).

Anak Agung Ayu Eka Samudra Yanti (36), guru Seni dan Budaya di SMP N Satap 2 Batukandik saat mengajar siswa-siswinya. (Foto diambil sebelum pandemi)
Anak Agung Ayu Eka Samudra Yanti (36), guru Seni dan Budaya di SMP N Satap 2 Batukandik saat mengajar siswa-siswinya. (Foto diambil sebelum pandemi) (Istimewa)

Menjadi guru di Nusa Penida, membuat AA Ayu Eka Samudra Yanti  harus menerima konsekuensi jauh dengan keluarga. Ia baru bisa pulang bertemu keluarga setiap akhir pekan.

"Komunikasi tetap lewat handphone. Kadang kalau sinyal bagus, bisa buat video call biar dapat lihat anak. Tapi kalau sinyal kurang bagus, hanya bisa dengerin suaranya, terkadang sedih banget seperti itu, terutama di saat anak sakit, saya tidak bisa dampingi anak,” ujarnya.

Menurutnya selama ini belum ada pendapatan lebih  bagi guru yang mengajar di Nusa Penida. Padahal guru asal Pulau Bali harus mengeluarkan ongkos lebih.

Misalnya untuk biaya kos, trasportasi untuk bertemu keluarga setiap minggunya  serta untuk hidup sehari-hari di Nusa Penida.

"Jadi terkadang pengeluaran bisa lebih banyak dibandingkan penghasilan  yang diterima. Tapi saya tetap semangat untuk menjadi guru,” ujarnya.

Guru lainnya di Nusa Penida, I Gede Jaya Adnyana (51) pun harus jauh dari keluarga.

Ayah dari dua orang anak itu  merupakan guru asal Desa Busungbiu, Buleleng dan tinggal di Paguyangan Denpasar Utara.

Tahun  2010 ia diangkat menjadi guru PNS dan ditempatkan di SMP Negeri 2 Satap Batukandik.

"Ketika itu pariwisata belum begitu berkembang di Nusa Penida seperti sekarang,” ujar Jaya Adnyana saat dihubungi, Minggu (2/5/2021).

Selama mengajar di Nusa Penida, Gede Jaya Adnyana tinggal kos  di Sampalan, Desa Batununggul.

"Pada tahun-tahun pertama saya di Nusa Penida, infrastruktur jalan masih banyak rusak, sehingga butuh waktu dan tenaga ekstra untuk ke wilayah Dungkap  di Desa Batukandik," jelasnya.

Pada tahun 2015  ia  dimutasi ke SMPN Satap di Desa Pejukutan, dan mengajar IPA di sekolah tersebut sampai saat ini. Selama 10 tahun ini, Jaya Adnyana bisa berkumpul dengan keluarga seminggu sekali atau saat akhir pekan.

"Saya pulang ke Denpasar bertemu dengan keluarga itu saat akhir pekan. Sabtu pagi menyeberang ke Bali dengan boat, lalu Senin pagi-pagi sekali sudah menyeberang ke Nusa Penida," katanya.

Kondisi ini membuatnya tidak bisa langsung membimbing anak-anaknya yang mulai tumbuh dewasa.

Beruntung saat ini teknologi dan infrastruktur komunikasi di Nusa Pendia sudah semakin berkembang, sehingga dirinya tetap bisa bekomunikasi dengan keluarga.

"Walaupun jauh, komunikasi dengan keluarga tentu tidak terputus. Anak-anak saya juga  sekarang sudah mulai bisa mandiri,” ungkapnya.

Terus Belajar
Usia bukan halangan untuk mengenyam pendidikan.

Begitulah yang dilakoni  Dr Putu Eka Juliana Jaya, SE, M.Si atau yang akrab disapa Wawa Arjaya.

Dia menyelesaikan pendidikan doktornya dalam waktu dua tahun tujuh bulan dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) cumlaude yakni 4,0.

Dengan IPK tersebut, Wawa Arjaya menjadi lulusan terbaik dari Program Doktor Ilmu Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.

Dr. Putu Eka Juliana Jaya, S.E., M.Si bersama dengan Dekan, Wakil Dekan FEB UNUD dan Keluarga.
Dr. Putu Eka Juliana Jaya, S.E., M.Si bersama dengan Dekan, Wakil Dekan FEB UNUD dan Keluarga. (Istimewa)

"Tidak ada hasil  tanpa upaya, jadi memang saya dari semester satu sudah melakukan pemetaan dan menargetkan sesuatu. Jadi kita harus tahu apa target berikutnya lalu kita rencanakan dari awal. Apa yang dibimbing dan disarankan oleh promotor, dosen penguji,  masukan-masukannya itu ikuti," kata ibu dari empat anak ini, Minggu (2/5/2021).

Mengambil jurusan Ilmu Ekonomi, Wawa mengatakan ia termasuk mahasiswa S3 yang lulus tercepat dengan nilai tinggi.

Untuk disertasi, wanita yang berprofesi sebagai guru di SMPN 1 Denpasar ini memilih judul Determinan Kinerja Produk dan Daya Saing Pelaku IKM di Kota Denpasar.

Jenjang pendidikannya selalu linier dengan ekonomi.  

"S1 mengambil marketing management di Universitas Surabaya, lalu S2 dan S3 kembali di Bali, yaitu di Universitas Udayana. Jadi saya selama S1 hingga S3 mengambil  ekonomi pertama jurusan manajemen, kedua ekonomi pembangunan, dan ketiga ini jurusan ilmu ekonomi," kata wanita berumur 50 tahun ini.

Alasannya melanjutkan pendidikan hingga S3 adalah untuk memenuhi rasa ingin tahu dan karena ia merasa sebagai insan pembelajar sepanjang hayat.

"Saya tetap sebagai insan pelajar sepanjang hayat,  jadi saya akan selalu mengisi diri karena ilmu pengetahuan yang berkembang. Kita tidak boleh berpuas diri dengan begini saja. Sibuk berpuas diri itu akan membuat kita ketinggalan zaman," imbuhnya.  (mpa/sup/sar/mit)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved