Breaking News:

Berita Denpasar

Diduga Cabuli Anak di Bawah Umur, Oknum Pensiunan Guru di Denpasar Dituntut 12 Tahun

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Widnyaningsih melayangkan tuntutan 12 tahun penjara terhadap terdakwa I Wayan S (67).

Tribun Bali/Dwi S
Ilustrasi pencabulan pada anak di bawah umur - Diduga Cabuli Anak di Bawah Umur, Oknum Pensiunan Guru di Denpasar Dituntut 12 Tahun 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Widnyaningsih melayangkan tuntutan 12 tahun penjara terhadap terdakwa I Wayan S (67).

Selain pidana badan, oknum pensiunan guru ini juga dituntut pidana denda Rp 1 miliar subsidair 3 bulan penjara.

Oleh JPU, terdakwa dinilai bersalah melakukan pencabulan terhadap anak didiknya yang masih di bawah umur saat mengikuti les.

Surat tuntutan dibacakan JPU dalam sidang yang digelar secara daring dan tertutup di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Selasa, 4 Mei 2021.

"Terdakwa sudah menjalani sidang tuntutan. Tuntutan pidana penjara selama 12 tahun, denda Rp 1 miliar, subsidair 3 bulan penjara," jelas JPU Widyaningsih saat ditemui usai sidang. 

Baca juga: UPDATE: Majelis Hakim PN Denpasar Tolak Eksepsi Terdakwa I Wayan M yang Tersandung Kasus Pencabulan

Dikatakannya, dalam surat tuntutan terdakwa dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan perbuatan cabul.

"Terdakwa melanggar Pasal 82 Ayat (1) UU RI No.17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perpu No.1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi UU Jo. Pasal 76 E UU No. 35 Tahun 2014 tentang Tentang Perubahan Atas UU No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak," ungkap jaksa dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Denpasar ini. 

Baca juga: Terkait Perkara Pencabulan Anak Kandung, Surat Putusan Hakim Belum Siap, Vonis Wayan S Ditunda

Pun dalam surat tuntutannya, JPU Widyaningsih mengurai hal memberatkan dan meringankan sebagai pertimbangan mengajukan tuntutan pidana. 

"Hal memberatkan, perbuatan terdakwa telah menyebabkan anak saksi menjadi trauma. Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa menyesali perbuatannya, tidak berbelit-belit dalam memberikan keterangannya. Juga terdakwa mengakui terus terang perbuatannya," urainya. 

Lebih lanjut, terhadap tuntutan yang telah diajukan JPU, terdakwa yang didampingi tim penasihat hukumnya dari Pusat Bantuan Hukum (PBH) Peradi Denpasar akan mengajukan pembelaan (pledoi) tertulis.

Halaman
12
Penulis: Putu Candra
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved