Hasil Survei Litbang Kompas: 40,2 Persen Responden Menilai Penyekatan Tak Efektif

Hasil survei menunjukkan sebesar 3,5 persen responden menyatakan sangat efektif dan 44 persen menilai tidak efektif.

Editor: DionDBPutra
Tribun Bali/I Komang Agus Aryanta
Ilustrasi. Aparat kepolisian melakukan penyekatan di simpang Mengwitani Badung pada Kamis sore 29 April 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan banyak masyarakat menilai penyekatan tidak efektif menghalau pemudik untuk putar balik.

Survei dilakukan terhadap 520 responden yang berusia minimal 17 tahun dari 34 provinsi di Indonesia.

Litbang Kompas mengumpulkan pendapat sepanjang 13-15 Maret 2021. Salah satu survei menunjukkan penilaian responden terhadap penyekatan jalur antar kota/provinsi untuk melarang pergerakan kendaraan umum atau pribadi sebagai moda transportasi untuk mudik.

Hasil survei menunjukkan sebesar 3,5 persen responden menyatakan sangat efektif dan 44 persen menilai tidak efektif.

Baca juga: 10 Mobil Travel Gelap Batal Mudik, Terjaring di Pos Penyekatan TAC Megati Tabanan

Baca juga: Tindak Tegas Pelanggar Mudik, Polda Bali Kerahkan 1.750 Personel Saat Penyekatan

Sementara 40,2 persen responden merasa tidak efektif, 1,9 persen menilai sangat tidak efektif, dan sisanya 10,4 persen tidak tahu.

Peneliti Litbang Kompas Eren Masyukrilla mengatakan, satu hal yang menjadi sorotan dari hasil survei ini adalah cukup besar persentase penilaian masyarakat terkait penyekatan jalan yang merasa tak efektif.

"Hal yang juga menjadi sorotan dan dinilai tidak efektif adalah penyekatan, yang saat ini juga sedang masif dilakukan oleh pihak Kepolisian dan Kemenhub di banyak ruas jalur dan perbatasan antar wilayah," ujar Eren dalam diskusi virtual, Kamis 6 Mei 2021.

Penilaian masyarakat tersebut berdasarkan realisasi penerapan larangan mudik tahun lalu. Di mana penyekatan atau pemeriksaan pada titik dan waktu tertentu tidak berjalan secara optimal.

Misalnya pengawasan pada malam hari yang lebih longgar dibandingkan pagi dan siang hari. Selain itu, dalam kondisi hujan pengawasan juga menjadi tidak ketat oleh para petugas.

Hal itu menjadi celah bagi banyak masyarakat yang nekat mudik tetap lolos meski pada periode penerapan kebijakan masa larangan mudik.

"Itu menjadi celah kebocoran dari pemudik tahun lalu, yang bisa melewati posko-posko pemeriksanaan, karena memang tidak ada yang jaga. Nah ini mengapa dinilai (penyekatan) tidak efektif," kata Eren.

Menurut Eren, perlu komitmen para petugas untuk konsisten menjaga titik penyekatan dan melakukan pemeriksaan agar penerapan kebijkan bisa optimal.

Selain itu, perlu juga upaya untuk mengantisipasi jalur-jalur alternatif atau jalur tikus yang kerap kali digunakan masyarakat yang nekat mudik untuk menghindari pengawasan.

"Kalau memang mau lakukan penyekatan, mau penindakan tegas terhadap arus lalu lintas di perbatasan antar kota, memang perlu dilakukan secara terus-menerus, dalam artian tidak boleh berikan celah kepada pelaku mudik, nah itu baru akan optimal," demikian Eren.

Berita lainnya terkait larangan mudik

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Survei Litbang Kompas: 40,2 Persen Responden Menilai Penyekatan Pemudik Tak Efektif

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved