Berita Bali

Puja Astawa dan Dewi Pradewi Rilis Film 'Dua Sisi' Tanpa Biaya Produksi, Kupas Stigma Negatif Tatto

Puja Astawa dan Dewi Pradewi Rilis Film 'Dua Sisi' Tanpa Biaya Produksi, Kupas Stigma Negatif Tatto

Tribun Bali/Ni Luh Putu Wahyuni Sari
Puja Astawa dan Dewi Pradewi Rilis Film 'Dua Sisi' Tanpa Biaya Produksi, Kupas Stigma Negatif Tatto 

Laporan Wartawan, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Penyanyi Dewi Pradewi dan selebgram Puja Astawa merilis film baru mereka bertajuk Dua Sisi, Jumat 7 Mei 2021 di ruang Bioskop Alaya, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) Denpasar.

Film Dua Sisi diadaptasi dari buku karya Dewi Pradewi yang berjudul 'Tatto Perempuan Bali' dan ternyata banyak mendapatkan respons positif.

Puja Astawa selaku sutradara film itu menjelaskan alur penggarapan film yang juga dibintangi oleh Jun Bintang.

Puja Astawa yang dikenal sebagai seorang komedian itu menyebut kolaborasi dalam pembuatan film ini merupakan keinginannya sejak lama.

Ketika Dewi Pradewi mengajak untuk membuat sebuah project film, Puja langsung menyetujuinya.

Baca juga: Meski Pandemi, Denpasar Documentary Film Festival 2021 Tetap Digelar

Selain Puja Astawa, film ini melibatkan banyak artis serta musisi yakni seperti Jun Bintang, Ajik Cok 'Krisna', Agung Raka Suteja (Gung Mayong), Gede Purnama Jaya, Lanyak, Do Dok dan masih banyak lainnya lagi.

Menariknya, penggarapan film Dua Sisi ini juga tidak menggunakan biaya produksi. 

"Jadi ini tidak ada biaya produksi pure dari bantuan teman-teman. Semua pihak membantu kegiatan ini dengan harapan bisa menjadi pola pikir baru. Dan kita tidak bisa menilai orang dari fisiknya saja, tapi lebih mudahnya kita untuk menjalani bagaimana dalam dirinya dan tatto bukan bagian dari cara berfikir orang," ungkap Puja. 

Puja Astawa mengakui proses produksi film tersebut memakan waktu cukup lama.

Ia juga menemukan sejumlah kendala, terutama terkait waktu penulisan naskah film ini.

Selain itu, ada beberpa bagian video yang harus di-cut karena faktor durasi.

Namun Puja Astawa dan Dewi meyakinkan bahwa pemotongan bagian video tidak serta merta mengurangi makna dari filmnya.

Rencananya film ini akan diputar di beberapa komunitas sastra yang ada di Provinsi Bali.

"Film ini akan diputar dibeberapa komunitas-komunitas sastra jadi setiap Kabupaten ada komunitas yang bisa mengkoordinir sebelum nanti akan tayang di YouTube Channel Bli Puja. Jadi rencananya sih saya mau minta dukungan teman-teman komunitas ada di Jembrana, Bangli dan selain komunitas sastra biasanya mereka membuat film documenter maunya saya masukin kesana," papar Dewi. 

Untuk diketahui, film yang dibuat selama kurang lebih tiga bulan ini mengambil lokasi take video di beberapa tempat seperti Desa Tua Tabanan, Krisna Oleh-oleh Sanur dan Nusa Dua serta Pasar Tradisional Kumbasari Denpasar.

Kedepan, Puja dan Dewi juga berencana meluncurkan film kedua mereka dengan cerita berbeda, tetapi masih terkait dengan dunia tatto. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved