Breaking News:

Berita Bali

Karmaphala Tak Bisa Disuap, Belajar dari Epos Mahabharata Saat Para Pandawa Masuk Neraka

Karmaphala Tak Bisa Disuap, Belajar dari Epos Mahabharata Saat Para Pandawa Masuk Neraka

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Widyartha Suryawan
Dok. Tribun Bali
Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti - Dharma Wacana tentang karma dalam ajaran Hindu. 

Karmaphala Terus Berjalan
Ajaran Hindu tentang karmaphala adalah ajaran yang perlu dan harus ditaati. 

"Ketika merasa salah harus minta maaf, dan itu telah melakukan sesuatu yang baik. Minta maaf adalah sesuatu yang baik. Tetapi minta maaf yang tulus. Jangan di belakang itu tidak memaafkan, itu sama dengan karma yang buruk. Bahkan bisa dua kali lipat buruknya karena kita berbohong," ucap Ida Rsi.

Berikutnya konsep Tri Kaya Parisudha menuntun umat, kepada konsep membuat karmaphala itu menjadi baik.

"Jangan putus asa dalam kehidupan, karena karmaphala berjalan terus dan tidak pernah berhenti. Marilah kita pupuk karma baik untuk kebahagiaan kemudian," sebut ida.

Ada tiga jenis karmaphala dalam ajaran Hindu Bali, yakni Sancita karmaphala, Prarabda karmaphala, dan Kriyamana karmaphala. Karma yang dinikmati kini dan nanti, baik oleh hasil perbuatannya dahulu, kini atau nanti.

Ida Rsi berpesan, jangan hanya karena melihat orang berbuat jelek namun hidupnya masih bahagia; kemudian merasa diri tidak berguna, lebih-lebih iri dengki terhadap orang tersebut.

Karena sejatinya, karma buruk itu pasti akan diterima oleh orang tersebut. Jika tidak sekarang maka nanti.

"Sebab sekali lagi, konsep karmaphala adalah berjalan terus, tidak pernah bisa dihentikan sampai dunia ini berakhir," kata beliau.(*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved