Berita Bali

Kisah Perjuangan Partiyem, Penjual Jamu Gendong yang Sudah Berjualan Selama 20 Tahun Lebih di Bali

"Di Bali itu sudah 20 tahunan lebih jualan, dari yang harganya lima ratus, sampai sekarang harganya dua ribu," jelasnya, ketika sedang berjualan

Penulis: Harun Ar Rasyid | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/Harun Ar Rasyid
Partiyem, Penjual Jamu Gendong di Denpasar. Rabu 19 Mei 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Partiyem sudah berjualan Jamu gendong selama hampir 20 tahun lebih.

Ia berjualan jamu di Jalan Supratman, Jalan Soka dan sekitarnya.

Ia mengaku sudah berjualan jamu dari harga yang cuma Rp 500 per gelas hingga sekarang harga satu gelas jamunya yaitu Rp 2.000.

"Di Bali itu sudah 20 tahunan lebih jualan, dari yang harganya lima ratus, sampai sekarang harganya dua ribu," jelasnya, ketika sedang berjualan di Jalan WR Supratman, Rabu 19 Mei 2021.

Baca juga: 5 Sumber dan Resep Jamu untuk Pandemi Covid-19, Berikut Ini Penjelasan Dosen UNHI Bali

Ia menjual berbagai jenis jamu.

Ia menjelaskan menjual jamu kencur, jamu kunyit, jamu sirih, jamu pait dan sebagainya.

Ditanya siapa yang membuat jamu, Partiyem mengatakan ia membuat sendiri jamu yang ia jajakan.

"Dulu diajarin ibu buat bikin jamu," kenangnya.

Ia merupakan sedikit dari beberapa penjual jamu gendong di Bali.

Dengan semacam kain yang dililitkan ke bahunya, Ia menggendong jamu-jamunya untuk berkeliling berjualan.

Perkiraan berat jamu yang ia gendong adalah 12 Kilogram.

Hal ini dilihat dari botol air mineral ukuran 1.500 liter yang berjumlah sebanyak 8 biji.

Selain itu ditangannya ia juga membawa ember kecil untuk mencuci gelas kotor.

Di masa pandemi ini, ia mengaku pembeli jamu gendong yang ia tawarkan masih banyak.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved