Breaking News:

Berita Tabanan

Nelayan Bali Waspadai Cuaca Buruk Tiga Bulan Kedepan, Angin Kencang dan Gelombang Tinggi Menghantui

Peralihan musim dari hujan ke kemarau harus diwaspadai masyarakat terutama para nelayan pesisir pantai di Bali khususnya di Kabupaten Tabanan.

istimewa
Suasana pasca dua nelayan dihantam gelombang tinggi di tengah Pantai Pasut, Desa Tibubiu, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Jumat 22 Januari 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Peralihan musim dari hujan ke kemarau harus diwaspadai masyarakat terutama para nelayan pesisir pantai di Bali khususnya di Kabupaten Tabanan.

Para nelayan di Tabanan sebaiknya "istirahat" sementara. Sebab, pada musim peralihan ini akan menimbulkan gelombang tinggi dan angin yang kencang.

Cuaca ini diperkirakan terjadi mulai bulan Mei hingga akhir Juni 2021 mendatang.

Kegiatan yang bisa dilakukan saat ini adalah hanya menangkap lobster pada waktu pagi hari.

Meskipun begitu, nelayan harus tetap waspada karena potensi kehilangan alat tangkap sangat tinggi di tengah laut.

Cuaca Buruk, Pohon Mangga Tumbang di Buleleng Timpa Rumah Warga

Nelayan Kusamba Merugi Melaut Saat Cuaca Buruk, Wayan Kolot Pernah 3 Hari Pulang Tanpa Hasil

Mengingat, kejadian nelayan terjebak dan kecelakaan di tengah sudah beberapa kali terjadi di pantai selatan Tabanan. 

"Sekarang kita harus sangat waspada. BMKG dan kita juga sudah sampaikan imbauan kepada seluruh nelayan untuk mewaspadai cuaca saat ini. Apalagi saat ini kerap terjadi kecepatan angin hingga diatas 14 Knot dan tidak baik untuk melaut," ungkap Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Tabanan, I Ketut Arsana Yasa saat dikonfirmasi.

"Secara Bali kita sudah turun temurun mengalaminnya. Ini terjadi pada sasih jiyestha, sadha, kasa. Waktu tiga bulan atau mulai bulan Mei hinga akhir Juli mendatang itu kita sudah sangat susah untuk melaut di tengah peralihan musim dari hujan ke kemarau. Secara satelit, terjadi hembusan angin balik yang semula dari barat dan sekarang dari timur. Ini semua membuat cuaca buruk buat nelayan laut selatan karena akan terjadi gelombang cukup tinggi dan angin yang kencang," imbuh pria yang juga sebagai Anggota DPRD Tabanan ini.

Pria yang juga akrab disapa Ketut Sadam ini menjelaskan, ancaman cuaca buruk ini bisa terjadi dalam beberapa bulan kedepan.

Namun, para nelayan masih bisa bermain di waktu pagi atau waktu menangkap lobster. 

Waktu pagi ini juga harus diwaspadai mengingat beberapa waktu belakangan ini, para nelayan yang menangkap lobster berpotensi kehilangan alat tangkap mereka karena cuaca buruk yang tiba-tiba terjadi sangat tinggi.

Di musim seperti ini, dalam sebulan nelayan hanya bisa melaut dalam beberapa hari. Sebab dalam sebulan, 20 harinya diterjang cuaca buruk. 

"Apalagi beberapa waktu belakangan ini banyak kejadian yang dialami oleh nelayan kita. Itu mulai dari terjebak di laut hingga mengalami kecelakaan di laut karena cuaca yang tak menentu. Satu faktor lagi yang paling penting adalah pengalaman dari nelayan itu sendiri," jelasnya.

Menurutnya, cuaca buruk ini memang sering terjadi sesuai dengan pengalaman puluhan tahun turun temurun.

Sehingga kita harus mengikuti saran dan imbauan dari BMKG dan melihat kondisi di lapangan.

Potensi Gelombang Tinggi di Selat Bali, Waspadai Cuaca Ekstrem hingga 22 April

Peringatan Dini BMKG, Kamis, 8 April 2021: Waspadai Gelombang Tinggi di Samudra Hindia Selatan NTT

"BMKG dan kita akan terus pantau situasi dan sudah berikan imbauan kepada seluruh nelayan untuk waspada di tengah cuaca peralihan musim ini. Kewaspadaan nelayan sangat diperlukan di tengah kondisi ini untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan," imbaunya.

Pengalaman Melaut Sangat Penting

I Ketut Arsana Yasa juga menyatakan, pasca diterjang pandemi Covid-19, sebagian masyarakat Tabanan kini mulai beralih menjadi nelayan.

Hal ini diakui merupakan turun temurun atau regenerasi warga pesisir Tabanan.

Terutama mereka para generasi muda yang sebelumnya berkecimpung di dunia pariwisata.

"Kita sangat support generasi kita yang melaut. Sebagian besar sekarang yang baru ini dari dunia pariwisata sebelumnya. Selain itu ada juga yang masih kuliah, mereka melaut untuk menambah biaya hidup di tengah pandemi ini," ungkap pria yang akrab disapa Ketut Sadam ini. 

Namun ia mengingatkan agar para nelayan "baru" harus selalu waspada dan tetap belajar dari nelayan yang sudah mahir.

Saat melaut, pengalaman sangay dibutuhkan.

Nelayan baru tak hanya bisa mengandalkan kekuatan mesin perahu untuk melaut.

"Jadi pengalamam ini sangat penting. Kemarin ada kejadian di tengah laut yang dialami oleh nelayan muda saat itu disebabkan oleh nelayan tersebut belum berpengalaman. Sehingga, mereka perlu disupport dengan pengalaman-pengalaman kita yang lebih dulu," ungkapnya.

Apalagi, kata dia, melaut di pantai selatan Kabupaten Tabanan ini membutuhkan keberanian.

Mengingat potensi kecelakaan atau hal lainnya bisa terjadi.

Terlebih pesisir Tabanan Selatan juga dikenal dengan gelombang yang tinggi dan angin yang kencang.

Update cuaca dan gelombang tinggi di sini

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved