Berita Badung

Terbentur Anggaran, Program Matanabe di Badung Dihentikan Sementara

Program masyarakat tanam cabe (Matanabe) yang diinisiasi Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung terpaksa dihentikan sementara.

Istimewa
Kadis Pertanian dan Pangan I Wayan Wijana menyerahkan bibit cabai kepada Kepala Sekolah dan Bendesa Adat sebagai percontohan dalam kegiatan Matanabe dan Sibertani, Kamis 4 Februari 2021 

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Program masyarakat tanam cabe ( Matanabe) yang diinisiasi Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung terpaksa dihentikan sementara.

Penghentian program tersebut lantaran keterbatasan anggaran yang dimiliki Pemkab Badung.

Padahal program yang baru dikeluarkan Dinas Pertanian dan Pangan itu diperuntukkan untuk mengantisipasi gejolak harga cabai  yang kerap terjadi di musim-musim tertentu.

Baca juga: Ciptakan Pemerintahan yang Bersih, Pemkab Badung Kerjasama Dengan Kejari Badung

Kadis Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, Wayan Wijana saat dikonfirmasi Kamis 27 Mei 2021 tak menampik perihal tersebut.

Pihaknya, kini berupaya mencari dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendanai program tersebut.

“Karena keterbatasan anggaran, untuk tahun ini program Matanabe belum bisa dilanjutkan. Harapan kami masyarakat bisa melanjutkan secara mandiri untuk ketahanan pangan keluarga,” ungkapnya.

Dikatakan,

Baca juga: Wilayah Badung Selatan Jadi Atensi Khusus Vaksinasi Rabies

program Matanabe juga tidak dianggarkan dalam APBD Badung lantaran tidak memiliki rumah dalam Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD).

Sehingga diharapkan, masyarakat Badung bisa melanjutkan program ini untuk meningkatkan perekonomian di tengah pandemi covid-19 ini.

“Kami tidak menggarkan, karena belum ada rumahnya dalam SIPD. Kami akan coba dari sumber lain seperti CSR atau kerja sama dengan desa melalui APBDES,” katanya.

Baca juga: Vaksinasi di Badung Bergerak ke Mengwi, Wabup Ingatkan Pentingnya Vaksinasi Untuk Kesehatan

Mantan Kabag Organisasi ini mengakui program Manatabe dibuat guna mengantisipasi gejolak harga cabai akibat turunnya produksi dan lemahnya alur distribusi.

Sebab, salah satu permasalahan klasik yang dihadapi setiap tahun adalah adanya gejolak harga cabai yang merugikan petani dan memberatkan masyarakat.

“Berbagai upaya telah kami lakukan melalui kegiatan pengembangan hortikultura dan pengaturan pola tanam. Namun, hal itu belum mampu mengatasi masalah fluktuasi harga cabai tersebut karena faktor produksi dan distribusi,” jelasnya sembari mengatakan beberapa petani juga takut menanam cabai saat musim hujan.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan lahan pekarangan minimal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menanam cabai, tomat, terong, sayuran dan sebagainya.

Baca juga: TPP ASN Pemkab Badung Belum Cair, Bupati Pastikan Tak Ada Pemotongan dan Dimungkinkan untuk Dirapel

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved