Breaking News:

Kesehatan

Gejala dan Penyebab Hiperseksualitas, Ternyata Bisa Dialami Siapa Saja

apa jadinya jika aktivitas seks ini dilakukan berlebihan? Seseorang bisa dikatakan mengalami hiperseksualitas.

Editor: I Made Dwi Suputra
Shutterstock
ILUSTRASI MODEL SEKSI 

TRIBUN-BALI.COM - Seks sebenarnya adalah aktivitas normal bagi orang yang sudah memiliki pasangan dan cukup umur.

Namun, apa jadinya jika aktivitas seks ini dilakukan berlebihan? Seseorang bisa dikatakan mengalami hiperseksualitas jika melakukan atau memikirkan tentang seks secara berlebihan.

Orang yang mengalami hiperseksual bisa saja terlibat dalam aktivitas seperti pornografi, masturbasi, dan seks dengan banyak pasangan.

Hal ini bisa mengakibatkan orang tersebut merasa tertekan di berbagai bidang kehidupan termasuk pekerjaan dan hubungan.

Baca juga: Praktisi Kesehatan Tidur Sebut Insomnia hanya Sebuah Gejala, Apa Gangguan yang Menyertainya?

Gejala

Seseorang bisa dikatakan mengalami hiperseksualitasjika secara konsisten mengalami hal berikut:

  • Anda memiliki fantasi, dorongan, dan perilaku seksual yang berulang dan intens serta di luar kendali Anda.
  • Anda merasa terdorong untuk melakukan perilaku seksual tertentu, merasakan pelepasan ketegangan sesudahnya, tetapi juga merasa bersalah atau menyesal.
  • Anda tidak berhasil mengurangi atau mengontrol fantasi, dorongan, atau perilaku seksual Anda.
  • Anda menggunakan perilaku seksual kompulsif sebagai pelarian dari masalah lain, seperti kesepian, depresi, kecemasan atau stres.
  • Anda terus melakukan perilaku seksual yang memiliki konsekuensi serius.
  • Anda kesulitan membangun dan memelihara hubungan yang sehat dan stabil.

Baca juga: 4 Makanan dan Minuman Ini Sangat Baik Untuk Menurunkan Risiko Penyakit Jantung, Apa Saja Itu?

Penyebab Menurut Mayo Clini, belum bisa dipastikan apa yang memicu hiperseksual. Namun, beberapa hal memang bisa menjadi penyebabnya. Berikut hal yang bisa memicu perilaku hiperseksual:

1. Ketidakseimbangan bahan kimia otak alami

Bahan kimia tertentu di otak (neurotransmiter) seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin membantu mengatur suasana hati.

Ketidak seimbangan bahan kimia yang terllau tinggi juga bisa memicu perilaku seksual kompulsif.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved