Breaking News:

Berita Denpasar

Aniaya Istri Siri hingga Berujung Kematian, Dituntut 11 Tahun Penjara, Paulus Pati Mohon Keringanan

Paulus Pati Madu (22) mengaku telah melakukan kekerasan atau penganiayaan terhadap istri sirinya (nikah adat), Margaretha Kaka.

Penulis: Putu Candra | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/Putu Candra
Paulus Pati Madu (22) mengaku telah melakukan kekerasan atau penganiayaan terhadap istri sirinya (nikah adat), Margaretha Kaka. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Paulus Pati Madu (22) mengaku telah melakukan kekerasan atau penganiayaan terhadap istri sirinya (nikah adat), Margaretha Kaka.

Ia pun mengaku menyesal, karena dari perbuatannya itu Margaretha meninggal dunia setelah mendapat perawatan di rumah sakit.

Pengakuan itu disampaikan melalui pembelaan tertulis yang dibacakan tim penasihat hukumnya di persidangan yang digelar secara daring di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. 

Baca juga: Pj. Sekda Kukuhkan Pilar-Pilar Sosial Kota Denpasar

"Pada intinya terdakwa memohon keringanan hukuman. Terdakwa mengaku menyesal dan bersalah atas apa yang telah dilakukannya kepada korban," ucap Dewi Maria Wulandari selaku penasihat hukum terdakwa, Jumat, 4 Juni 2021.

Dengan telah diajukan pembelaan tertulis tersebut, pengacara dari Pusat Bantuan Hukum (PBH) Peradi Denpasar mengatakan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) akan memberikan tanggapannya. 

Baca juga: Dua WNA Eropa Terjaring Operasi Yustisi Prokes di Denpasar, Sayoga: Sempat Adu Argumen

Diberitakan, oleh JPU, terdakwa Paulus Pati Madu dituntut pidana penjara selama 11 tahun.

Ia dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga mengakibatkan matinya korban.

Perbuatan terdakwa melanggar Pasal 44 Ayat (3) UU RI Nomor 23 tahun 2014 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. 

Baca juga: PANIK Dikejar Satpol PP Denpasar, Gepeng Ibu & Anak Asal Karangasem Kocar-kacir dan Nyemplung ke Got

Dibeberkan dalam surat dakwaan JPU, pernikahan Paulus dan Margaretha baru dilakukan secara adat dan belum dicatatkan di Dinas Kependudukan Catatan Sipil (Disdukcapil).

Pernikahan adat dilakukan pada Februari 2020 di Sumba, NTT.

Selama di Bali, keduanya tinggal di Jalan Demak, Gang Lange, Denpasar Barat.

Pada 8 Desember 2020 pukul 02.00 Wita, terjadi selisih paham antara terdakwa dan korban.

Terdakwa lalu memukul dan menendang korban.

Tendangan Paulus mengenai perut bagian kiri Margaretha.

Baca juga: Tingkatkan SDM dan Industri Kreatif, Pemkot Denpasar Jalin Kerja Sama dengan IDB Bali

Margaretha pun merasakan sakit luar biasa hingga harus dilarikan ke RS Sanglah untuk mendapat perawatan. 

Pada 11 Desember 2020, Margaretha dinyatakan meninggal dunia.

Berdasar hasil visum dokter RS Sanglah, ditemukan banyak memar di bagian tubuh korban.

Sedangkan di bagian perut kiri ditemukan luka memar warna kecokelatan dengan panjang 10 cm.

"Kekerasan benda tumpul itu menyebabkan limpa robek sehingga menimbulkan pendarahan yang menyebabkan kematian," ungkap JPU Swastini dalam dakwaan. (*)

Berita lainnya di Berita Denpasar

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved