Breaking News:

Disukai Ketika Ditonton Dan Dihujat Di Kehidupan Nyata, Berikut Dampak Meng-upload Video Intim

Warganet dihebohkan dengan 8 potongan video adegan intim yang diduga diperankan oleh WNA dan salah satu masyarakat lokal.

NET
Ilustrasi video porno 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Beberapa hari yang lalu unggahan di sosial media menghebohkan warganet khususnya di Bali.

Warganet dihebohkan dengan 8 potongan video adegan intim yang diduga diperankan oleh WNA dan salah satu masyarakat lokal.

Diduga video tersebut diambil di sebuah Villa yang berada di kawasan Badung, Bali.

Merekam serta mengunggah video intim terlebih video tersebut sudah banyak ditonton oleh masyarakat, tentunya memiliki dampak negatif khususnya pada orang-orang yang terlibat dalam video tersebut.

Dampak-dampak tersebut disampaikan langsung oleh, dr. Oka Negara, M.Biomed selaku dosen yang mengajar di FK Universitas Udayana dan juga selaku Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia Cabang Denpasar pada, Sabtu 5 Juni 2021.

Sebelumnya video tersebut menampilkan adegan hubungan intim dengan lebih dari 1 pasangan sekaligus.

Dan tentu saja perilaku seksual yang seperti itu sangat berisiko dikarenakan aktivitas seksual yang seperti itu bukanlah aktivitas yang biasanya dilakukan pasangan pada umumnya.

"Mungkin ketika mereka membuat video mereka senang ditonton, namun kenyataannya ketika mereka berada di kehidupan sosial yang berisikan norma-norma, jelas mereka merupakan orang-orang yang tidak disukai secara sosial atau tidak memiliki norma sosial positif. Normal sosial kan masih seperti berhubungan intim sewajarnya, kalau bisa tidak direkam dan hanya dengan satu orang saja. Otomatis mereka punya risiko sosial," ungkap dr. Oka

Lebih lanjutnya ia mengatakan, tetapi yang paling penting bukan hanya resiko sosial saja, yakni juga pada risiko kesehatan.

Mereka yang dalam video tersebut tidak memakai kondom, tidak jelas siapa yang diajak serta berganti-ganti pasangan, dan tentu saja pastinya berisiko memiliki penyakit menular seksual.

"Selain itu juga pada resiko hukum. Dengan membuat video tersebut, direkam dan diedarkan berisiko dengan undang-undang di Indonesia. Dan tentunya itu akan menyangkut dengan perundang-undangan Indonesia. Dan kalau ada perilaku yang memang melanggar hukum tentu saja akan berisiko dan berhadapan dengan hukum. Selain itu risiko sosial tadi bisa juga pada pemberlakuan deportasi," tutupnya. (*)

Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved