Breaking News:

Kesehatan

Kasus Mundurnya Naomi Osaka dari Perancis terbuka dan Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

Langkah Naomi Osaka yang mengundurkan diri dari Roland Garros adalah hal mengejutkan di dunia tenis.

Editor: I Made Dwi Suputra
AUSTRALIAN OPEN
Petenis tunggal putri Jepang, Naomi Osaka, bereaksi usai memastikan kemenangan atas Garbine Muguruza (Spanyol) pada babak keempat Australian Open 2021 di Rod Laver Arena, Melbourne Park, Melbourne, Australia, Minggu 14 Februari 2021. 

TRIBUN-BALI.COM - Kesehatan mental memiliki peran besar di dalam kehidupan kita. Selain kesehatan fisik, kita juga harus menjaga kesehatan mental agar sejahtera secara keseluruhan.

Menjaga kesehatan mental tidak semudah seperti yang kita duga. Terkadang, kita harus rehat sejenak dari berbagai aktivitas yang melelahkan untuk menenangkan diri.

Cara itulah yang dilakukan oleh petenis Naomi Osaka. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari ajang Perancis Terbuka pada 31 Mei lalu. Keputusannya meninggalkan lapangan tenis muncul usai ia membagikan unggahan di Instagram terkait serangan depresi yang dialaminya.

Tentu saja, langkah Osaka yang mengundurkan diri tersebut adalah hal mengejutkan di dunia tenis. Menjelang turnamen, Osaka sempat menyatakan bahwa dirinya tidak ingin bertemu dengan pers atau bergabung dalam konferensi pers setelah pertandingan.

Baca juga: Demi Kesehatan Mental, Yuk Unfollow 5 Tipe Orang Ini di Medsos

Baca juga: Terungkap, Marc Marquez Alami Frustrasi Besar, Akui Sulit Secara Mental untuk Bangkit Usai Cedera

Baca juga: Berikut 5 Manfaat Bermain Puzzle untuk Kesehatan Mental

Alasannya, pertanyaan bernada negatif yang dilontarkan kepada Osaka tentang permainannya di Perancis Terbuka memengaruhi kondisi mental dan meningkatkan kecemasannya.

Para ahli kesehatan mental memberikan pendapat terkait pengunduran diri yang dibuat Osaka. Kecemasan dan depresi Bagi yang tidak memahami kecemasan atau depresi, keputusan Osaka mungkin dianggap sebagai bentuk keangkuhan publik figur, apalagi dia merupakan salah satu atlet wanita dengan bayaran tertinggi.

Demikian penjelasan Sanam Hafeez, neuropsikolog di New York dan anggota fakultas di Columbia University. Padahal penolakannya untuk melakukan konferensi pers, menurut dia bukan semata-mata tidak ingin menjawab pertanyaan media, namun lebih dari itu.

"Pemikiran menghadapi media, dan kamera televisi kemungkinan memicu kepanikan baginya," tutur Hafeez. "Antisipasi hal itu menjadi satu-satunya fokus dia sampai pada akhirnya pemikiran tersebut mengganggu permainan tenisnya dan menyebabkan ia mengalami kecemasan."

"Ini berbeda dibanding seseorang yang tidak ingin melakukan sesuatu." Denise Fournier, konselor kesehatan mental berlisensi dan asisten profesor psikologi di Nova Southeastern University di Florida juga sependapat dengan Hafeez. Fournier mengatakan, tekanan karena media, ditambah turnamen tenis yang kompetitif di tingkatan Osaka memberikan dampak besar bagi petenis tersebut.

Gangguan kesehatan mental seperti depresi berat dan gangguan kecemasan sosial yang dialami Osaka dapat melemahkan kondisi mentalnya. "Ketika seseorang mengalami gejala itu, bangun dari tempat tidur adalah sesuatu yang dirasa sangat berat," tambah Fournier.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved