Breaking News:

Israel

Benjamin Netanyahu Tuduh Oposisi Bermuka Dua dan Klaim Ada Kecurangan Pemilu

Dia juga mengklaim koalisi Israel merupakan hasil dari kecurangan pemilu terbesar dalam sejarah demokrasi Israel.

Editor: DionDBPutra
AFP/MENAHEM KAHANA
PM Israel Benjamin Netanyahu. Dia menuduh oposisi yang menggulingkannya bermuka dua. 

TRIBUN-BALI.COM, YERUSALEM- Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menuduh oposisi yang menggulingkannya bermuka dua.

Dia juga mengklaim koalisi Israel merupakan hasil dari kecurangan pemilu terbesar dalam sejarah demokrasi Israel.

Netanyahu yang memimpin Israel selama 12 tahun terakhir menyampaikan tuduhan tak lama setelah Kepala Keamanan Domestik Israel mengeluarkan peringatan tentang potensi kekerasan politik di dalam negeri.

Baca juga: Kekuasaan Benjamin Netanyahu Berakhir, Oposisi Israel Bentuk Pemerintahan Baru

Baca juga: Pemimpin Oposisi Israel Yair Lapid Yakin Bisa Menggulingkan Benjamin Netanyahu

Yair Lapid
Yair Lapid (DEBBIE HILL/ POOL/AFP)

"Kami menyaksikan kecurangan pemilu terbesar dalam sejarah negara ini. Menurut pendapat saya dalam sejarah demokrasi mana pun," kata Netanyahu mengomentari sepak terjang legislator dari Partai Likud, pada Minggu 6 Juni 2021.

Melansir Reuters, Netanyahu fokuskan tuduhannya pada janji kampanye yang dilanggar dari Naftali Bennett.

Politisi nasionalis yang diusung untuk menggantikan Netanyahu itu sebelumnya berjanji tidak bermitra dengan partai-partai sayap kiri, tengah, dan Arab.

Kantor berita Reuters melaporkan, Naftali Bennett segara menanggapi klaim Netanyahu selang beberapa jam setelah publikasinya.

Dia meminta pemimpin terlama Israel itu untuk tidak meninggalkan "kehancuran" dan menerima bahwa "orang Israel diizinkan menjalankan pemerintahan - bahkan jika Anda (Netanyahu) tidak menjadi pemimpinnya.”

Pada hari Rabu 2 Juni 2021 lalu, Naftali Bennett dan pemimpin oposisi Yair Lapid, mengumumkan mereka membentuk koalisi pemerintahan, yang terdiri dari faksi-faksi dari seluruh spektrum politik Israel.

Manuver politik itu dilakukan setelah Pemilu Israel yang keempat dalam dua tahun terakhir (23 Maret 2021), menunjukkan hasil yang tidak meyakinkan.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved