Breaking News:

Berita Denpasar

Ubah Image SMP Swasta yang Selalu Jadi Pilihan Kedua, Berikut Gebrakan SMP PGRI 8 Denpasar

Selama ini SMP Swasta selalu dianggap sebagai sekolah pilihan kedua setelah SMP Negeri. Orangtua banyak yang ingin anaknya bersekolah di negeri

Ilustrasi: Tribun Bali/Dwi Suputra
Ilustrasi PPDB jalur zonasi - Ubah Image SMP Swasta yang Selalu Jadi Pilihan Kedua, Berikut Gebrakan SMP PGRI 8 Denpasar 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Selama ini SMP Swasta selalu dianggap sebagai sekolah pilihan kedua setelah SMP Negeri.

Orangtua banyak yang ingin anaknya bersekolah di negeri, dan SMP swasta akan menjadi cadangan jikalau mereka tak lolos di SMP negeri.

Untuk menghilangkan image tersebut, sekolah swasta pun berlomba menampilkan inovasi yang bisa menjadikan SMP swasta tak kalah bergengsi dengan SMP negeri.

Baca juga: Disdikpora Kabupaten Badung Mulai Mempersiapkan PPDB, Pendaftaran Secara Online

Seperti yang dilakukan oleh SMP PGRI 8 Denpasar yang melakukan inovasi dalam proses pembelajaran hingga dalam seleksi penerimaan guru di sekolah tersebut.

Sehingga hal ini akan menjadi nilai plus untuk menarik minat siswa bersekolah di sini.

Kepala SMP PGRI 8 Denpasar, I Ketut Gede Adi Sutrisna Sugara mengatakan untuk pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sekolah yang dipimpinnya sesuai dengan ekspektasi.

Baca juga: Sekolah Negeri Lebih Dicari Dibanding Swasta dalam PPDB, Dewan Bali Minta Orang Tua Murid Pahami Ini

Di mana hingga Jumat 4 Juni 2021 kemarin, sebanyak 75 orang calon peserta didik baru telah melakukan pendaftaran ulang dari 103 pendaftar.

Jumlah ini meningkat dari tahun lalu, di mana sebelum pengumuman kelulusan PPDB SMP Negeri, yang mendaftar ulang sebanyak 50 orang dari 102 pendaftar.

“Untuk PPDB tahun ini, astungkara sesuai dengan ekspektasi dan bahkan melebihi dari tahun lalu,” kata Sutrisna.

Baca juga: Sekolah Boleh Belajar Tatap Muka Seizin Pemerintah Daerah Setempat

Pembukaan untuk pendaftaran PPDB tahun 2021 ini telah dilaksanakan sejak Maret 2021.

Di mana untuk daya tampung tahun ini berkisar antara 250 hingga 300 siswa.

Sementara itu, selama dua tahun terakhir mendapat 270 hingga 280 siswa, namun sebanyak 70-an siswa pindah ke SMP Negeri.

Baca juga: PPDB di Buleleng Dilaksanakan Secara Online, Pihak Sekolah Akan Fasilitasi Pendaftaran

Ia mengatakan banyaknya siswa yang tertarik mendaftar di SMP PGRI 8 Denpasar ini mungkin karena adanya beberapa penambahan sarana dan prasarana di sekolahnya.

Selain itu, ada juga tambahan pelajaran bahasa asing yakni Bahasa Mandarin dan Bahasa Jepang.

Bahkan ia menyebut, untuk kesiapan protokol kesehatan, menjadi satu-satunya dari SMPG PGRI di Denpasar yang serba otomatis.

Mulai dari tempat cuci tangan yang menggunakan pedal, sabun dengan sensor, pengering tangan dengan hand dryer, alat pengecekan suhu digital dan saat mengecek suhu langsung keluar hand sanitizer.

Alat tersebut ditempatkan di semua tempat strategis baik di ruang kelas, perpustakaan hingga ruang guru.

“Di ruangan, seminggu sekali kami lakukan sterilisasi menggunakan lampu ultraviolet untuk membunuh bakteri yang tidak baik bagi kesehatan,” tuturnya.

Selain itu, di masing-masing ruang kelas, juga dilengkapi dengan AC dan TV 50 inch.

“Kami tidak menggunakan LCD, namun pakai TV. Karena sekarang jamannya smartphone dan smart TV, sehingga mode pembelajaran kami audio visual,” katanya.

Sementara itu, selama pembelajaran daring ini, pihaknya hanya menggunakan WhatsApp, tanpa menggunakan zoom maupun google meet.

Baginya menggunakan zoom maupun google meet tidak efektif bagi siswa yang memiliki permasalahan jaringan.

Meskipun dengan WhatsApp, pembelajaran berlangsung efektif karena setiap guru wajib membuat video pembelajaran sendiri.

Guru tak boleh mengambil video dari Youtube dan sekolah memiliki tim verifikator untuk setiap video yang dibuat oleh guru.

“Kami punya SOP pembuatan videonya, apakah sudah layak untuk siswa. Video harus update, misalnya sekarang lagi trend Bulan Sutena, maka video dilengkapi clip Bulan Sutena, juga dilengkapi animasi untuk menjelaskan materi,” katanya.

Untuk membuat hal tersebut bisa terwujud, pihaknya mengaku telah memulai sejak perekrutan guru, di mana guru yang masuk ke sana harus benar-benar berkualitas.

Calon guru akan menjalani serangkaian tes secara maraton, dan penilaian tak hanya dilakukan oleh Kepala Sekolah, namun juga oleh perwakilan 20 orang siswa.

“Karena guru itu akan mengajar siswa, maka siswalah yang menilai. Sehingga guru itu akan menjadi idola siswa,” katanya.

Baginya, ini adalah usaha yang dilakukan untuk mengubah image sekolah swasta yang hanya menjadi pilihan kedua.

“Tahun ini kami ingin membuat gebrakan yang lebih baik dari SMP negeri. Saya ingin SMP Swasta sama seperti SD swasta yang tutup duluan karena sudah banyak mendapat siswa. Saya ingin perlahan juga seperti itu,” katanya.

Dengan semua fasilitas yang disediakan sekolah, pihaknya ingin siswa mendapat feed back yang sesuai bahkan lebih dari yang biaya yang dikeluarkan. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved