Breaking News:

Berita Tabanan

Terdakwa Kasus Persetubuhan Anak di Panti Asuhan Tabanan, Pelaku Divonis 13 Tahun Penjara

Terdakwa kasus persetubuhan anak di bawah umur di Tabanan, Reimal Sipahelut akhirnya menerima vonis 13 tahun penjara dengan denda Rp500 Juta.

Tribun Bali/Dwi S
Ilustrasi pencabulan pada anak di bawah umur. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN – Terdakwa kasus persetubuhan anak di bawah umur di Tabanan, Reimal Sipahelut akhirnya menerima vonis 13 tahun penjara dengan denda Rp500 Juta.

Terdakwa ini merupakan pelaku kasus persetubuhan anak yang dilakukan di salah satu Yayasan (panti asuhan) di wilayah Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Tabanan beberapa waktu lalu.

Sesuai dengan putusan Mahkamah Agung, hukuman yang diterima terdakwa tersebut justru lebih berat dari 10 tahun menjadi 13 tahun penjara.

Sebab, terdakwa sebelumnya menang pada upaya banding.

Putusan tersebut menyusul dengan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja membujuk Anak untuk melakukan persetubuhan sesuai dengan putusan Pengadilan Negeri (PN) Tabanan.

Hakim Tunda Pembacaan Putusan Pidana Terdakwa dalam Perkara Pencabulan Anak Dibawah Umur di Denpasar

Oknum Bawati Dituntut 6 Tahun Penjara, I Wayan M Ajukan Pembelaan Terkait Pencabulan di Gianyar Bali

Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Tabanan, I Dewa Gede Putra Awatara menuturkan, kasus persetubuhan anak di bawah umur di salah satu panti asuhan yang ada di Tabanan sudah diputuskan.

Awalnya Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Tabanan telah mengajukan tuntutan yakni terdakwa Reimal Sipahelut telah terbukti secara sah bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Terdakwa diancam dengan pidana dalam Pasal 81 Ayat (2) Undang  Undang RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP sebagaimana yang tertuang dalam Dakwaan Penuntut Umum yakni menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berupa pidana penjara selama 13 (tiga belas) Tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara dan denda sebesar Rp200 Juta subsider lima Bulan kurungan.

Dari hasil sidang kasus tersebut, Putusan Pengadilan Negeri Tabanan menjatuhkan pidana Penjara selama 13 (tiga belas) tahun dan Pidana Denda sebesar Rp 200 Juta subsider pidana kurungan 5 bulan atau sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Tabanan.

Setelah itu, terdakwa melakukan upaya hukum banding yang selanjutnya putusan banding dari Pengadilan Tinggi Denpasar menurunkan hukuman menjadi 10 tahun dan pidana denda conform.

Halaman
12
Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved