Berita Bali

Bali Bisa Kembangkan Kembali Usaha di Sektor Akuakultur Khususnya Rumput Laut

Safari Azis menghimbau agar Bali dapat membangkitkan kembali usaha di sektor akuakultur, utamanya pengembangan budi daya rumput laut.

Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Noviana Windri
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Petani rumput laut di Banjar Nyuh Kukuh, di Desa Ped, Nusa Penida, Klungkung mengeluh karena hasil panen kurang baik. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

TRIBUN BALI.COM, DENPASAR - Terpuruknya perekonomian Bali selama pandemi Covid-19 berimbas pada kesejahteraan masyarakat lokal. 

Sektor pariwisata yang menjadi andalan, tampaknya tidak cukup kuat untuk menopang roda perekonomian.

Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia ( ARLI), Safari Azis menghimbau agar Bali dapat membangkitkan kembali usaha di sektor akuakultur, utamanya pengembangan budi daya rumput laut.

"Sebaiknya Bali tetap mengembangkan sektor pariwisata dengan sektor-sektor lainnya secara paralel. Untuk rumput laut sendiri, Bali merupakan wilayah yang sangat berpotensi," ungkap Ketua ARLI, Safari Azis usai pertemuannya dengan Ketua Umum Kadin Bali, Made Ariandi di Denpasar, 14 Juni 2021 kemarin.

Lebih lanjut Safari Azis dalam keterangan tertulisnya, Selasa 15 Juni 2021 mengatakan, Bali merupakan daerah yang pertama membudidayakan Rumput Laut jenis Eucheuma Spinosum dan Eucheuma Cottonii pada awal tahun 1980-an kemudian diikuti oleh Provinsi Sulawesi Selatan dan beberapa Provinsi lainnya di Indonesia. 

3 Ide dan Resep Minuman Menyegarkan untuk Menu Buka Puasa Ramadhan, Ada Es Melon Rumput Laut

Terserang Penyakit, Rumput Laut di Banjar Nyuh Kukuh Nusa Penida Harus Dipanen Dini

Disamping itu, Bali juga pernah menjadi tempat penyelenggaraan pertemuan rumput laut dunia, the 21st International Seaweed Symposium (ISS) pada tahun 2013 yang dihadiri oleh peneliti, pengusaha, pemerhati serta pembuat kebijakan dari 50 negara.

Di Bali, lanjut Safari Azis, budidaya rumput laut pernah menjadi Sumber Penghasilan masyarakat di Pesisir Nusa Dua dan Pulau-Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. 

ARLI akan mendorong adanya perluasan wilayah budidaya rumput laut untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat, membantu pemulihan ekonomi Bali, selain juga untuk meningkatkan ekspor rumput laut.

Berdasarkan data statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi rumput laut Provinsi Bali tahun 2019 mencapai 849,66 ton (basah),  menurun di tahun 2020 menjadi hanya 149 ton (basah).

"Selama ini kami mendapat laporan jika memang ada tantangan yang ditemui untuk mengembangkan rumput laut di Bali, diantaranya karena bersinggungan dengan area pariwisata atau hotel," kata Safari Azis.

Menurutnya, pengaturan zonasi menjadi sangat penting dilakukan untuk mengakomodir kepentingan usaha pariwisata dan budi daya rumput laut

ARLI berharap agar dibuat tata ruang wilayah antara budidaya rumput laut, lalulintas laut, perhotelan atau resort serta objek wisata lainnya yang disepakati bersama Pemerintah Daerah Kabupaten, Kota dan Provinsi bersama Kementerian dan lembaga terkait, Kadin Bali serta ARLI.

"Sebenarnya bisa digabung menjadi semacam  eco-wisata, sehingga tak harus bersinggungan satu sama lain. Banyak turis yang tidak hanya mencari keindahan alam, tetapi juga kearifan budaya lokalnya termasuk kegiatan usahanya," terangnya.

Bupati Suwirta Harapkan Pemerintah Kanada Bisa Bantu Ekspor Rumput Laut Nusa Penida Klungkung

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Berita Terkait :#Berita Bali
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved