Breaking News:

Direktur Celious Tanggapi Perihal Perpanjangan Diskon PPnBM 100 Persen untuk Mobil 1.500 cc

Bhima Yudhistira menanggapi perihal ditetapkannya perpanjangan diskon Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 100 persen untuk mobil berkapasitas 1.500 c

Penulis: Karsiani Putri | Editor: Noviana Windri
Istimewa
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira - Terkait Penambahan Plafon KUR, Ekonom INDEF Prediksi Pertumbuhan UMKM Mencapai 2 Hingga 3 Persen 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Karsiani Putri

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menanggapi perihal ditetapkannya perpanjangan diskon Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 100 persen untuk mobil berkapasitas 1.500 cc hingga bulan Agustus 2021 oleh Pemerintah RI. 

Menurutnya, hal tersebut sebetulnya hanya memicu kanibalisasi dalam artian penjualan mobil bekas anjlok dan digantikan dengan pembelian mobil baru di tipe kendaraan yang sama.

Dirinya beranggapan sebab selisih harga mobil baru dan bekas yang menyempit dikarenakan fasilitas PPnBM 0 persen dapat berdampak terhadap penjualan mobil bekas menjadi anjlok.

Bhima Yudhistira menilai secara total hasilnya sama saja pembelinya. 

"Yang tadinya mau beli mobil bekas karena harga lebih rendah ternyata mobil baru harganya juga diskon akibat insentif PPnBM 0 persen dan ini tidak adil bagi penjual mobil bekas," ucap Bhima Yudhistira. 

Relaksasi PPnBM 100 Persen untuk Mobil 1.500 cc Diperpanjang Hingga Bulan Agustus 2021

Daya Beli Kendaraan Rendah meski PPnBM Diterapkan, Respons Masyarakat Bali Hanya 8,4 Persen

Dirinya menuturkan bahwa adapun tujuan PPnBM secara filosofi adalah untuk mengendalikan ketimpangan antar penduduk kaya dan miskin yang objeknya adalah barang mewah. 

Sementara fungsi lain PPnBM, yakni guna mendorong masyarakat mengalihkan konsumsi ke produk yang lebih ramah lingkungan. 

Sehingga menurutnya apabila mobil listrik PPnBMnya lebih kecil dari mobil BBM itu tepat. 

"Tapi, saat ini justru mobil BBM yang diturunkan PPnBMnya. Itu kebijakan yang kurang sinkron. Dampak dari turunnya PPnBM memang naikkan penjualan mobil, tapi harus dicek apakah ini sekadar beralihnya konsumen mobil bekas ke produk pabrikan baru," terangnya ketika dihubungi Tribun Bali pada Selasa 15 Juni 2021. 

Menurutnya, berdasarkan data dari Gaikindo yang dimana per April 2021 penjualan ritel kendaraan bermotor berada di angka 79.500 unit yang mana sebelum pandemi atau pada April 2019 lalu angkanya 84.029 unit. 

Dirinya menilai bahwa penjualan mobil baru meningkat, meskipun belum kembali ke level sebelum pandemi. 

Terkait soal prinsip keadilan pajak, menurutnya perlu dijunjung tinggi sehingga jangan sampai persepsi masyarakat yang mana kebijakan pajak hanya menguntungkan orang kaya, sementara yang menengah bawah terus dikejar.

Bhima Yudhistira juga menyampaikan bahwa Pemerintah juga tengah membahas opsi tax amnesty jilid 2 dan wacana perluasan PPN ke objek sembako serta jasa pendidikan.

"Saya rasa kurang pas ya padahal di negara lain formulasi pajak untuk atasi defisit selama pandemi ada tiga, yakni menutup celah penghindaran pajak, meningkatkan porsi pajak kelompok kekayaan teratas, dan memberikan relaksasi pajak termasuk PPN agar daya beli masyarakat menengah bawah cepat recovery," ungkapnya. (*) 

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved