Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Perawat Ricardo Almiron Dituduh Lalai yang Menyebabkan Kematian Maradona

Namun, dalam sidang Senin 14 Juni 2021, Almiron mengatakan kepada jaksa dia hanya mengikuti perintah untuk tidak mengganggu tidur sang legenda.

Editor: DionDBPutra
Diego Maradona Press Office via AFP
Diego Maradona (kanan). 

TRIBUN-BALI.COM, BUENOS AIRES- Jaksa Argentina menuduh Ricardo Almiron telah lalai merawat Diego Maradona hingga menyebabkan kematian sang legenda sepak bola itu pada bulan November 2020.

Namun, dalam sidang hari Senin 14 Juni 2021, Almiron mengatakan kepada jaksa bahwa dia hanya mengikuti perintah untuk tidak mengganggu tidur sang legenda.

Ricardo Almiron (37) bertugas jaga malam, dan merupakan satu di antara orang terakhir yang melihat Diego Maradona hidup.

Baca juga: Patung Baru Diego Maradona dan Gestur Kontroversial

Baca juga: Dokter Pribadi Maradona Didakwa Pembunuhan Berencana Terkait Kematian Legenda Sepakbola Argentina

Almiron diduga berbohong karena mengklaim Diego Maradona sedang tidur dan bernapas normal beberapa jam sebelum dia meninggal.

Hasil autopsi mengungkapkan fakta, bintang Argentina saat juara Piala Dunia 1986 tersebut sekarat saat tidur.

Almiron adalah satu dari tujuh orang yang diselidiki atas pembunuhan Maradona, setelah dewan ahli menemukan eks pesepak bola itu mendapat perawatan yang tidak memadai serta ditelantarkan dalam periode panjang dan menyiksa.

Diego Maradona meninggal karena serangan jantung 25 November 2020 pada usia 60 tahun, hanya beberapa pekan setelah menjalani operasi otak karena pembekuan darah.

Kantor berita AFP melaporkan, Almiron tiba tepat setelah tengah hari (15.00 GMT) dengan pengacaranya, Franco Chiarelli, di kantor kejaksaan San Isidro pinggiran ibu kota Buenos Aires.

Berbicara kepada wartawan setelah wawancara, Chiarelli mengatakan bahwa Almiron selalu memperlakukan Maradona sebagai pasien dengan kondisi kejiwaan yang kompleks, tetapi tidak pernah diberitahu tentang masalah yang berkaitan dengan penyakit jantung.

"Dia diberitahu atasannya untuk tidak mengganggu pasien. Klien saya memiliki kewajiban untuk melakukan tugasnya tanpa pasien merasa diganggu, yang merupakan sesuatu yang harus dia tangani selama dia berada di sana," kata Chiarelli.

Investigasi dibuka menyusul pengaduan yang diajukan oleh dua dari lima anak Maradona terhadap ahli bedah saraf Leopoldo Luque, yang mereka salahkan atas memburuknya kondisi ayah mereka setelah operasi.

Tim panel yang terdiri dari 20 ahli medis bentukan jaksa penuntut umum Argentina bulan lalu mengatakan, perawatan Maradona penuh dengan kekurangan dan ketidakberesan, kemudian tim medis membiarkan nasibnya ditentukan oleh takdir.

Panel menyimpulkan, Maradona aakan memiliki peluang bertahan hidup yang lebih baik jika mendapat perawatan memadai di fasilitas medis yang sesuai.

Sebaliknya, Diego Maradona meninggal di tempat tidur rumah sewaan kawasan elite Buenos Aires, dengan perawatan di rumah.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com berjudul Dituduh Lalai dalam Kematian Maradona, Perawat: Saya Hanya Ikuti Perintah

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved